Bahasa Isyarat Perlu Dikenalkan Sejak Dini ke Masyarakat

  • 22 Sep 2025 09:45 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Bahasa isyarat bukan hanya milik penyandang tunarungu, tetapi sudah selayaknya dipahami oleh masyarakat luas sebagai jembatan komunikasi dan kesetaraan. Hal ini disampaikan Pengajar dan Juru Bahasa Isyarat SKH Negeri 01 Kota Serang, Maria Christiaan Isnawari Dwi Widiastuti.

Sebagai orang tua dari anak tunarungu sekaligus pendidik sejak 2003, Widiastuti memiliki pengalaman panjang mendampingi anak-anak dengan kebutuhan komunikasi khusus. Ia menekankan bahasa isyarat adalah “pintu utama” bagi anak tunarungu untuk mengakses informasi dan pendidikan secara utuh.

“Anak tunarungu itu hidupnya sunyi. Dunia mereka sepi karena tidak mendengar, sehingga tanpa bahasa isyarat informasi yang mereka terima akan terputus,” ujar Widiastuti saat dialog bersama RRI, Senin (22/9/2025).

Baca juga: Cuaca Banten Hari Ini Didominasi Hujan Ringan

Menurutnya, bahasa isyarat tidak hanya penting bagi anak-anak tunarungu, tetapi juga seharusnya dipahami masyarakat umum. “Minimal masyarakat bisa berisyarat agar komunikasi dengan penyandang tunarungu bisa terjalin dengan baik,” ucapnya.

Namun, tantangan masih besar seperti keterbatasan jumlah guru bahasa isyarat di Indonesia, khususnya di Banten, membuat layanan pendidikan inklusif belum merata. Mahasiswa, pendidik, hingga relawan didorong untuk ikut belajar bahasa isyarat sehingga semakin banyak tenaga yang dapat menjadi penyambung lidah bagi penyandang tunarungu.

Selain peran guru, Widiastuti menegaskan keluarga memegang kunci penting dalam mendukung perkembangan anak. “Ketemu guru hanya beberapa jam, selebihnya anak bersama orang tua. Jadi orang tua harus ikut belajar berisyarat supaya komunikasi di rumah selaras dengan yang diajarkan di sekolah,” katanya.

Baca juga: Gubernur Ajak Warga Banten Aktifkan Lagi Siskamling

Di sisi lain, ia mengapresiasi semakin banyaknya anak muda yang mulai tertarik mempelajari bahasa isyarat melalui media sosial maupun komunitas. Ia berharap pemerintah dan lembaga publik lebih serius membuka akses seluas-luasnya bagi anak tunarungu untuk berpartisipasi.

“Kami ingin bahasa isyarat diterima di segala lini, sama seperti bahasa lain. Dengan begitu informasi untuk anak tunarungu tidak akan terputus,” kata Widiastudi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....