Kaywood Tumbuh Lewat Konsep Ekonomi Sirkular

  • 21 Nov 2025 10:10 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Di tengah maraknya produk fesyen massal, Kaywood menjadi salah satu UMKM kreatif dari Pandeglang, Banten yang bertahan melalui pendekatan ramah lingkungan. Jenama yang kini berusia hampir satu dekade ini dibangun dengan konsep keberlanjutan, memanfaatkan bahan baku kayu berkualitas serta mengolah limbah produksinya menjadi produk bernilai guna tinggi.

Pemilik Kaywood, Rizki Pebriani menceritakan, perjalanan Kaywood dimulai sejak 2012, ketika mendiang suaminya mengembangkan desain dan produksi jam tangan kayu pertama di Indonesia. Meski proses produksi jam kayu dikenal kompleks karena menggabungkan teknologi mesin dan pengerjaan tangan, Kaywood tetap mempertahankan prinsip efisiensi bahan baku.

“Sisa-sisa kayu itu selalu kami simpan. Kayu berkualitas seperti jati, sonokeling, atau juga maple enggak lapuk dan enggak dimakan rayap meski bertahun-tahun,” ujarnya saat berdialog di Pro2 FM, Kamis (20/11/2025).

Baca juga: Kopi Puhu, Produk BUMDes Bandung Dipasarkan Dalam Bentuk Ekonomis

Situasi pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi bisnis ini. Permintaan jam tangan sempat terhenti total, memaksa Kaywood menutup produksi sementara. Namun justru dalam masa sulit itulah muncul ide untuk mengolah limbah yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Potongan kecil sisa pembuatan jam itu kemudian diolah menjadi coaster, jam meja, dan berbagai produk rumah lainnya.

“Itu akhirnya jadi revenue baru buat kita,” ucap Rizki.

Inovasi tersebut membawa Kaywood masuk dalam kategori UMKM dengan konsep ekonomi sirkular, sebuah sistem yang menekankan pemanfaatan kembali bahan baku agar tidak berakhir menjadi sampah. Tanpa disadari, praktik ini sudah dilakukan Kaywood jauh sebelum istilahnya populer. Rizki menyebut bahwa menjaga keberlanjutan bukan sekadar tren, tetapi sudah menjadi budaya kerja di workshop mereka.

Baca juga: Pejabat Pandeglang Diinstruksikan Beli dan Pakai Produk Lokal

"Sejak awal bisnis ini berdiri, kami berkomitmen untuk menghasilkan produk yang estetis sekaligus minim limbah," ujar dia.

Tidak hanya fokus pada pemanfaatan limbah, Kaywood juga mengembangkan identitas lingkungan melalui desain berkonsep lokal. Salah satunya dengan mengombinasikan jam tangan kayu dan strap dari tenun Baduy. Ide yang muncul saat Rizki berkolaborasi dengan pengrajin Baduy ini kini menjadi ciri khas Kaywood dan memperkuat nilai budaya dalam produk mereka. “Itu yang bikin kita berbeda dari brand-brand lain,” katanya.

Pasar Kaywood pun berkembang ketika mereka berani keluar dari zona nyaman. Jika di awal masyarakat lokal belum terlalu menerima produk jam tangan kayu, respons berbeda datang saat mereka mengikuti pameran di kota besar seperti Jakarta. Produk yang sebelumnya sulit terjual kini justru laris manis. Hal tersebut membuktikan bahwa keberlanjutan dan estetika lokal memiliki pasar tersendiri ketika bertemu audiens yang tepat.

Baca juga: Rawan Dijiplak, Produk Desa Bandung Harus dapat Perlindungan Hukum

Dengan kapasitas produksi hingga 3.600 unit per tahun, Kaywood terus menjaga kualitas bahan baku dan ketelitian desain. Hingga kini, sekitar 1.200 jam tangan kayu diproduksi setiap tahun, belum termasuk produk-produk turunan dari limbah yang semakin diminati. Bagi Rizki, angka ini bukan sekadar capaian produksi, melainkan bukti bahwa produk ramah lingkungan punya tempat di industri kreatif Indonesia.

Rizki berharap Kaywood dapat terus menginspirasi pelaku UMKM lain untuk mengedepankan keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah dan pelestarian bahan alam. Dengan kombinasi craftsmanship, nilai budaya, serta komitmen menjaga lingkungan, Kaywood ingin menunjukkan bahwa produk lokal bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga membawa dampak positif bagi ekosistem usaha dan lingkungan sekitar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....