Komunitas Teman Lapar Dorong UMKM Tumbuh Bersama

  • 06 Okt 2026 11:17 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang – Berawal dari kebutuhan mendapatkan makanan di lingkungan tempat tinggal, Utami Pratiwi membangun Komunitas Teman Lapar. Komunitas berbasis WhatsApp tersebut kemudian berkembang menjadi ruang jual beli makanan sekaligus membuka peluang bagi warga untuk memasarkan produk rumahan.

Utami yang merupakan Founder Teman Lapar mengatakan, komunitas itu awalnya hanya beranggotakan enam orang. Ia dan para tetangga saling menawarkan makanan berlebih yang dibuat di rumah. Konsep sederhana tersebut berkembang karena kebutuhan masyarakat terhadap makanan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar.

Dari enam anggota, Teman Lapar kini memiliki sekitar 660 anggota. Produk yang ditawarkan juga semakin beragam. Warga yang awalnya hanya menjual makanan sisa produksi mulai memproduksi makanan secara khusus karena permintaan konsumen meningkat. Sejumlah produk bahkan mampu terjual puluhan porsi dalam sehari.

Utami mengatakan, keberadaan komunitas tersebut pada dasarnya menjadi penghubung antara warga yang memiliki makanan berlebih dengan warga yang membutuhkan makanan. Transaksi dilakukan langsung antara penjual dan pembeli, sedangkan komunitas berperan sebagai media dan menyediakan aturan agar aktivitas jual beli tetap berjalan.

“Saya ingin mempertemukan mereka yang kelebihan makanan dengan saya yang kekurangan makanan. Makanya bertemanlah dengan kelaparan, namanya Teman Lapar,” ujarnya dalam program UMKM Bicara RRI Banten, Senin, 5 Oktober 2026.

Konsep serupa kemudian dikembangkan melalui Lapak Goceng. Lapak tersebut menjadi proyek yang melibatkan peserta magang dari jurusan tata boga. Utami mengarahkan mereka untuk belajar berdagang dengan menyediakan produk makanan berharga terjangkau. Lapak Goceng kemudian dipindahkan ke kawasan Pakupatan karena dinilai memiliki peluang pasar yang lebih sesuai.

Utami juga berusaha agar kegiatan Lapak Goceng tidak mengganggu usaha yang sudah lebih dulu berjalan di sekitar lokasi. Karena itu, waktu operasional dipilih pada siang menuju sore. Menurutnya, pendekatan tersebut merupakan bagian dari etika berusaha dengan tetap memperhatikan keberadaan pelaku usaha lain.

“Bagaimana caranya kita bikin usaha yang tidak merusak, tidak membuat orang terganggu, dan tidak menjadi saingan,” katanya.

Saat ini, Lapak Goceng memiliki sekitar 50 menu yang berasal dari berbagai produk warga. Utami berharap pola kolaborasi tersebut terus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan produk rumahan menjadi usaha yang lebih serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....