Inflasi Pandeglang Merangkak Naik Sentuh Empat Persen
- 02 Okt 2026 20:41 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Angka inflasi tahunan (year on year) Kabupaten Pandeglang mencatatkan tren peningkatan hingga menembus level 4.00 persen pada rilis data terbaru bulan Oktober. Beberapa faktor seperti cuaca ekstrem, musim kering, serta tingginya permintaan komoditas bahan pokok di pasaran disinyalir menjadi penyebab tingginya indeks harga konsumen di daerah.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang, Achmad Widijanto, menyatakan sebelumnya capaian inflasi bulanan di bulan Agustus berada pada angka 3,94 persen akibat tingginya konsumsi kelompok makanan, minuman, serta tembakau. Perayaan hari besar keagamaan dan perayaan nasional secara bersamaan disebutnya mendongkrak volume permintaan barang secara signifikan di tingkat pedagang pasar.
"Kenaikan angka inflasi tahunan dipicu oleh lonjakan kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau karena tingginya tingkat konsumsi masyarakat pada perayaan hari besar," ujar Achmad, Jumat 2 Oktober 2026.
Dinamika harga pasar tersebut turut dipengaruhi oleh perbandingan data dasar periode tahun sebelumnya yang berada pada posisi relatif normal.
Tren kenaikan angka inflasi pun berlanjut memasuki bulan September dengan posisi mencapai 4,00 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) menyentuh level 112,10. Tekanan harga pangan ini semakin menguat seiring musibah kekeringan yang melanda lahan pertanian warga di berbagai daerah yang memicu kegagalan panen raya.
"Kondisi kurang baik muncul pada bulan September karena tingkat kekeringan di sawah memicu penurunan produksi beras yang berdampak pada pengurangan suplai di pasaran," katanya.
Achmad menerangkan dampak utama dari lonjakan inflasi berkepanjangan inj adalah penurunan daya beli masyarakat secara keseluruhan akibat beban pengeluaran kebutuhan pokok yang semakin mahal. Ia menegaskan pengendalian harga pangan saat ini menjadi instrumen krusial agar gejolak pasar tidak semakin membebani perekonomian warga di berbagai wilayah kecamatan.
"Dampak pertama terhadap daerah dengan tingkat inflasi tinggi adalah daya beli masyarakat menjadi semakin rendah apabila inflasi berlangsung terus-menerus," ujar Achmad.
Ia mengatakan strategi pengendalian inflasi daerah kini menuntut pengamanan sektor produksi pertanian lokal guna menjamin ketersediaan stok pangan di pasar tradisional tetap aman. Pemerintah daerah bersama instansi teknis disebutnya harus mewaspadai potensi aksi penimbunan barang akibat kepanikan warga dalam merespons isu kelangkaan komoditas.
"Kunci pengendalian inflasi adalah mengamankan produksi pangan serta mencegah permainan harga dan aksi borong akibat kurangnya edukasi masyarakat," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....