Dampak Perubahan Iklim Ancam Pertanian Pandeglang

  • 14 Sep 2026 14:54 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Sektor pertanian Kabupaten Pandeglang mengalami dampak signifikan dari perubahan iklim global yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan setiap tahunnya.
  • Kondisi topografi wilayah pesisir Pandeglang yang lebih tinggi dibandingkan area persawahan meningkatkan risiko intrusi air laut ke lahan budidaya di daerah seperti Cikeusik, Panimbang, dan Patia.
  • Perubahan iklim memberikan pengaruh nyata terhadap siklus pertumbuhan tanaman padi, sementara faktor geografis wilayah selatan menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan tata air pertanian.

RRI.CO.ID, Pandeglang - Sektor pertanian di Kabupaten Pandeglang menghadapi tantangan berat akibat dampak perubahan iklim global yang memicu fenomena kekeringan berkepanjangan setiap tahunnya. Kondisi topografi wilayah pesisir yang lebih tinggi dibandingkan area persawahan seperti di daerah Cikeusik, Panimbang, hingga Patia turut memperparah risiko intrusi air laut ke lahan budidaya.

Pengawas Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Asep Mahpudin menyatakan, perubahan iklim memberikan pengaruh nyata terhadap siklus pertumbuhan tanaman padi di daerah penghasil gabah tersebut. Faktor geografis wilayah selatan juga disebutnya menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan tata air pertanian.

"Dampak perubahan iklim di Kabupaten Pandeglang itu sangat berdampak, disaat musim hujan bisa terbanjiri dan disaat kemarau pasti kekeringan," katanya, Senin, 14 September 2026.

Topografi wilayah pesisir seperti Panimbang yang lebih tinggi dari persawahan dikatakannya memicu arus balik air laut yang membawa kandungan garam tinggi ke lahan petani. Kondisi tersebut mengganggu proses fisiologis tanaman padi sekaligus menurunkan tingkat produktivitas hasil panen secara keseluruhan.

"Topografi di Kabupaten Pandeglang itu terutama di wilayah Mekarsari Panimbang laut lebih tinggi daripada persawahan, sehingga saat kering arus balik memengaruhi terhadap kandungan garamnya terhadap tanaman padi," kata Asep.

Pemerintah daerah terus mengoptimalkan peran petugas lapangan bersama kelompok tani guna memitigasi risiko kegagalan panen akibat anomali cuaca ekstrem. Sekolah Lapang Iklim pun diselenggarakan oleh DPKP secara berkala untuk mengedukasi petani mengenai penyesuaian kalender tanam dan pemilihan varietas unggul.

"Inisiatif petugas di lapangan beserta kelompok tani dalam penanganan dampak perubahan iklim ini sudah disosialisasikan melalui pemilihan varietas yang tahan terhadap kekeringan dan kalender tanamnya dimundurkan sesuai prediksi BMKG," tutup Asep Mahpudin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....