Abu Vulkanik Krakatau Picu Keluhan Kesehatan dan Trauma di Masyarakat Pandeglang

  • 06 Sep 2026 13:40 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyelimuti berbagai wilayah di Kabupaten Pandeglang, khususnya wilayah Desa Idaman, Kecamatan Patia. Sejak Sabtu malam pukul 22.00 WIB, fenomena alam ini memicu keluhan kesehatan serta kekhawatiran mendalam terkait dampak bencana yang akan dihadapi masyarakat.

Kepala Desa Idaman, Ilman, menyatakan material debu vulkanik mulai turun mengotori pemukiman warga secara tiba-tiba sejak malam hari. Warga sempat mengira debu tersebut berasal dari jalan raya sebelum akhirnya menyadari kiriman material vulkanik gunung berapi tersebut.

"Semalam itu ada debu, mulai ada debu, terus pagi-pagi seperti biasa bersih, banyak debu di rumah," ujar Ilman, Minggu 6 September 2026.

Ilman menambahkan, paparan abu vulkanik tersebut secara nyata mengganggu kenyamanan warga setempat dan langsung berdampak pada kesehatan fisik. Warga pun mengeluhkan gangguan pernapasan serta iritasi mata perih akibat debu halus yang berterbangan.

Kendati demikian, aktivitas sosial dan perladangan warga disebutnya terpantau masih berjalan normal seperti biasa meski dibayangi rasa waswas. Warga memendam ketakutan mendalam terhadap potensi ancaman bencana susulan seperti peristiwa tsunami tahun 2018 silam.

"Paling juga agak ketakutan aja gitu, banyak yang ketakutan seperti tahun 2018 kan terjadi tsunami," ujar Ilman.

Pemerintah desa lantas mengimbau seluruh masyarakat agar disiplin mengenakan masker pelindung saat beraktivitas demi menghindari bahaya kesehatan. Sejumlah warga juga terus meningkatkan kewaspadaan sambil memantau perkembangan situasi aktivitas vulkanik terkini.

Kendati aktivitas warga tampak normal, bayang-bayang trauma bencana masa lalu mulai menghantui psikologis masyarakat desa. Salah seorang warga di Desa Idaman, Neni yang mengatakan dirinya merasa cemas dan ketakutan mendalam akibat memori buruk erupsi serta potensi tsunami susulan.

"takut si ya dari malem abu terus berjatuhan, ini juga teras rumah dan berapa kali disapu banyak debu," ujar Neni.

Di balik aktivitas harian yang tetap berjalan, bayang-bayang trauma bencana masa lalu dikatakannya masih menghantui warga setempat. Sebagian besar masyarakat merasakan ketakutan terhadap potensi ancaman susulan seperti tsunami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....