Kemarau Panjang, Warga Cisampih Pandeglang Manfaatkan Air Selokan
- 24 Agt 2026 07:08 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang – Ratusan warga Kampung Cisampih, Desa Pakuluran, Kecamatan Koroncong, Pandeglang terpaksa menggunakan air selokan keruh untuk memenuhi kebutuhan mandi serta mencuci setiap hari. Krisis air bersih akibat bencana kekeringan panjang tersebut sudah melanda wilayah permukiman warga selama lima bulan terakhir.
Warga Kampung Cisampih, Iyang Udiyana, menyatakan seluruh sumur gali milik warga mengalami kekeringan total sehingga tidak ada lagi sumber air bersih tersisa. Warga terpaksa memanfaatkan aliran air parit persawahan yang kotor demi kelangsungan aktivitas kebersihan rumah tangga.
"Kekurangan air karena sumur pada kering akibat kemarau panjang, terpaksa ada air selokan dipakai buat mandi, cuci piring, dan kadang cuci baju," ujar Iyang, Minggu 23 Agustus 2026.
Kondisi air saluran irigasi tersebut juga dikatakannya sangat kotor karena tercemar limbah domestik serta endapan sampah dari perkampungan warga di bagian hulu sungai. Penggunaan air parit yang keruh tersebut sering kali menimbulkan keluhan kesehatan berupa rasa gatal pada kulit warga.
Menurutnya pemanfaatan aliran air tersebut tidak hanya diakses oleh warga satu perkampungan saja melainkan melibatkan masyarakat dari wilayah perlintasan lainnya. Jaringan saluran air dari hulu Cidalaki disebutnya menjadi tumpuan alternatif ratusan warga untuk mencuci pakaian. "Masyarakat kampung lain pun juga pakai saluran air yang sama karena sumur mereka kering," ujarnya.
Harapan besar disuarakan masyarakat agar musim penghujan segera tiba guna memulihkan cadangan air tanah di dalam sumur warga. Kebutuhan air bersih ini dinilainya menjadi prioritas mendesak agar penderitaan akibat krisis kekeringan tahunan ini segera berakhir. "Harapannya ada musim hujan lagi agar sumur-sumur pada terisi kembali seperti sediakala," katanya.
Kendala krisis air bersih tersebut dirasakan sangat memberatkan oleh kalangan ibu rumah tangga dalam mengurus pekerjaan domestik setiap hari. Ketiadaan air layak huni memaksa kaum perempuan memanfaatkan air keruh untuk keperluan mencuci perabot dapur.
Salah seorang ibu rumah tangga di Kampung Cisampih, Eli mengaku sangat kesulitan mendapatkan pasokan air bersih guna mencuci pakaian serta peralatan makan keluarga. Aktivitas mencuci dan membersihkan rumah terpaksa dijalankannya dengan mengandalkan pasokan air seadanya. "Sangat kesusahan tidak punya air bersih untuk cuci piring dan pakaian sehingga terpaksa pakai air selokan yang keruh," ujar Eli.
Walau demikian, menurut Eli, warga tidak berani mengambil risiko mengonsumsi air selokan tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya dan warga lain terpaksa meminta bantuan tetangga terdekat yang memiliki sumur bor atau penampungan khusus.
Bantuan distribusi air bersih dari pihak berwenang pun disebutnya sangat minim dan tidak pernah rutin diterima warga setiap harinya. "Bantuan air bersih dari pemerintah baru ada satu kali dari Bapak Kapolres Pandeglang dan tidak rutin tiap hari," kata Eli.
Dampak buruk penggunaan air selokan kotor pun dirasakannya langsung pada kesehatan fisik yang mengalami iritasi gatal-gatal usai mandi. Ia mengaku hanya bisa mengabaikan risiko kesehatan tersebut lantaran tidak ada lagi pilihan sumber air lain yang tersedia. "Mandi pakai air keruh ini bikin gatal-gatal di badan dan terasa gerah sekali. Mau gimana lagi terpaksa dipakai karena memang tidak ada air bersih sama sekali," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....