Bank Sampah Digital Perluas Kesadaran Pilah Sampah

  • 22 Agt 2026 17:22 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Bank Sampah Digital terus memperluas kesadaran masyarakat untuk memilah sampah melalui pendampingan komunitas, sekolah, rumah tangga, hingga lembaga keagamaan. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di wilayah Serang Raya.

CEO Bank Sampah Digital, Desty Eka Putri Sari, mengatakan keberhasilan program bank sampah sangat bergantung pada adanya masyarakat yang menjadi penggerak di tingkat lokal. Karena itu, sebelum membuka titik unit baru, pihaknya terlebih dahulu melakukan asesmen untuk melihat kesiapan komunitas.

Menurut Desty, keberadaan penggerak lokal atau local champion penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan. Penggerak tersebut nantinya membantu mengajak masyarakat memilah sampah dan mengkoordinasikan kegiatan penimbangan secara rutin.

“Ketika mau bikin titik unit Bank Sampah kita selalu tanya, ada enggak local champion-nya? Ada enggak tiga koordinator yang memang berhati luas, yang punya jiwa sosial,” ujarnya dalam program Green Radio bersama RRI Pro1 Banten, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Desty menjelaskan, masyarakat yang ingin membuka titik unit Bank Sampah Digital dapat menghubungi pengelola melalui kanal resmi. Untuk pembentukan titik baru, masyarakat perlu membangun kelompok dengan jumlah anggota tertentu agar kegiatan pengumpulan dan penimbangan dapat berjalan efektif.

Ia menyebut Bank Sampah Digital saat ini telah memiliki lebih dari 300 titik unit. Selain itu, sekitar 6.800 keluarga tercatat sebagai bagian dari masyarakat yang melakukan pemilahan sampah dari rumah sepanjang periode 2020 hingga 2026.

Program tersebut juga menyasar dunia pendidikan. Bank Sampah Digital telah mendampingi lebih dari 30 sekolah. Pengembangan kegiatan di sekolah dinilai penting karena dapat menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak usia dini sekaligus melibatkan lingkungan keluarga.

Lebih lanjut menurut Desty, tantangan terbesar bukan semata-mata kurangnya fasilitas, melainkan kebiasaan dan perspektif masyarakat terhadap sampah. Sebagian masyarakat masih menganggap kegiatan memilah sampah merepotkan atau nilai ekonominya terlalu kecil.

Karena itu, pendekatan edukasi dilakukan dengan menyesuaikan karakter kelompok masyarakat. Di lingkungan pesantren, misalnya, edukasi lingkungan dapat dikaitkan dengan nilai keagamaan. Sementara pada masyarakat lainnya, pendekatan dilakukan dengan bahasa dan contoh yang lebih sederhana.

Desty mengatakan pola komunikasi tersebut diperlukan agar pesan mengenai lingkungan dapat diterima masyarakat secara lebih mudah. Menurutnya, perubahan kebiasaan membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan dengan memaksakan satu pendekatan kepada seluruh kelompok masyarakat.

“Jadi kita tidak bisa memaksakan seseorang itu untuk masuk ritmenya kita. Makanya Bank Sampah Digital punya asesmen,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....