Pesisir Banten Terancam, Mapala se-Banten Tanam 1.000 Mangrove
- 26 Jul 2026 17:27 WIB
- Banten
Poin Utama
- Tingkat kerusakan hutan mangrove di Provinsi Banten telah mencapai 60 persen dari total luas 2.600 hektare menurut data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Banten.
- Wilayah pesisir termasuk Teluk Banten, Kabupaten Serang, dan kawasan utara mengalami kerusakan paling parah akibat alih fungsi lahan dan abrasi.
- Kerusakan alam di Banten disebabkan oleh dua faktor utama yaitu celah regulasi yang dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi dan rendahnya kesadaran warga dalam menjaga lingkungan.
RRI.CO.ID, Pandeglang - Kerusakan alam di Provinsi Banten kian mengkhawatirkan. Selain akibat celah regulasi yang dimanfaatkan oknum untuk menguras keuntungan, rendahnya kesadaran warga menjaga lingkungan turut memperparah kondisi pesisir.
Merujuk data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banten, tingkat kerusakan hutan mangrove di Provinsi Banten saat ini sudah menembus 60 persen dari total luas 2.600 hektare. Wilayah pesisir seperti Teluk Banten, Kabupaten Serang, dan kawasan utara menjadi lokasi paling parah tergerus alih fungsi lahan dan abrasi.
| Baca juga: Mangrove Dorong Ekonomi dan Edukasi Pesisir |
"Mangrove Camp ini digelar buat melestarikan alam, mencegah abrasi, sekaligus menanamkan kesadaran. Harapannya, semua elemen punya kepedulian yang sama untuk menjaga pesisir," ujar Ketua Panitia Mangrove Camp Vol. 3, Rifki "Gozel" Gozali, di sela kegiatan di Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Minggu, 26 Juli 2026.
Aksi yang diinisiasi Pusat Koordinasi Daerah (PKD) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Banten pada 25–26 Juli ini diikuti sekitar 100 peserta dari kalangan Mapala, Siswa Pencinta Alam (Sispala), dan komunitas lingkungan.
Memperingati Hari Mangrove se-Dunia, para peserta secara bergotong royong menanam 1.000 batang bibit mangrove di kawasan pesisir Cibungur.
| Baca juga: Mangrove Lontar Benteng Pesisir Banten Utara |
Tak sekadar tancap pohon, agenda ini juga diisi talkshow edukatif, salah satunya mengulas potensi UMKM pengolahan mangrove menjadi produk selai dan sirup. Peserta juga diajak mengikuti panggung seni tradisional Banten, baca puisi lingkungan, sharing session, hingga kelas teknik penanaman mangrove.
Anisa "Semes" Hermawati, peserta asal Mapala Cilegon (Skala), menilai kegiatan ini efektif memberi pemahaman nyata soal aksi menyelamatkan bumi.
"Manfaatnya terasa sekali, mengedukasi warga sekaligus mengajak anak-anak Mapala dan masyarakat umum turun tangan langsung," kata Semes.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Kepala Bidang PSDP & Ekraf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pandeglang, Mia Maulani Rizki menilai, gerakan yang digagas anak muda ini tidak cuma berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi dikembangkan jadi objek wisata edukasi.
"Kegiatan seperti ini sangat membantu menekan kerusakan hutan mangrove. Ke depan, acara serupa bisa dikemas sebagai event wisata edukasi yang menarik. Kami tentu sangat mendukung," kata Mia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....