Kenaikan Harga Kedelai Bikin Perajin Tahu di Pandeglang Resah

  • 14 Jun 2026 15:57 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Kenaikan harga kedelai impor yang kini menyentuh angka Rp.11.200 per kilogram, mulai memicu keresahan di kalangan pengrajin tahu tradisional di Kabupaten Pandeglang. Para pelaku usaha mikro mulai mengkhawatirkan kelangsungan operasional produksi akibat margin keuntungan yang semakin menipis tergerus beban operasional.

Salah seorang perajin tahu di Pandeglang, Iman mengungkapkan, kondisi bisnis harian saat ini sebenarnya masih berada dalam tahapan aman dan belum berdampak secara ekstrem. Namun, tingginya bahan pokok serta biaya produksi membuatnya harus memutar kepala untuk menentukan harga dan ukuran dari setiap tahu yang dibuatnya.

"Kalau untuk sekarang tidak begitu terdampak, masih ada lah lebih sedikit, ya aman. Tapi kalau nanti di harga 14 ribu, ya mungkin baru ada dampak, kita rugi dong kalau di harga masih di Rp38 atau Rp37 ribu per papan," kata Iman, Minggu 14 Juni 2026.

Ia mengungkapkan, fluktuasi harga kedelai impor di pasaran dalam beberapa pekan terakhir terus merangkak naik dari harga normal. Menurutnya saat ini, volume produksi harian di rumah produksi miliknya di wilayah Kecamatan Pandeglang masih mampu mempertahankan kapasitas pasokan yang berkisar antara empat hingga enam kuintal per hari.

Guna menyiasati lonjakan biaya, dia masih mempertahankan ukuran cetakan tahu dalam bentuk standar tanpa melakukan penciutan dimensi produk. Namun menurutnya lambat laun penyesuaian ukuran maupun koreksi harga jual di tingkat agen akan dilakukan jika fluktuasi harga regional terus menaik.

Ia menyebut potensi kerugian diproyeksikan bakal mengancam usaha jika harga jual tahu di tingkat grosir tetap bertahan pada angka Rp.37.000 per papan. Beban produksi dinilainya tidak akan sebanding dengan kalkulasi harga komponen penunjang lain seperti minyak sayur, kayu bakar, hingga upah harian karyawan.

Iman menilai formulasi alternatif untuk menaikkan harga jual tahu ke kisaran Rp40.000 - Rp42.000 per papan menjadi opsi rasional terakhir. Langkah penyelamatan usaha tersebut terpaksa diambil guna menghindari gulung tikar akibat tingginya biaya modal awal.

"Tidak sesuai dengan kebutuhan karet seperti kayu bakar, minyak sayur, dan baju karyawan, jadi terlalu tipis lah. Kalau harapan sih balik lagi, kayak contoh 9000 atau 9600, kalau sekarang sudah di atas sebelas," ujarnya.

Ia berharap stabilitas harga komoditas kedelai bisa segera dipulihkan oleh pihak otoritas terkait. Kembalinya harga bahan baku ke posisi normal di Rp9.000 per kilogram menjadi tumpuan Iman demi bisa menjaga eksistensi industri rumahannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....