Pedagang di Pasar Badak Pandeglang Enggan Jual Minyakita

  • 10 Mei 2026 10:20 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang – Keberadaan minyak goreng kemasan MinyaKita mulai langka di lapak-lapak pedagang di Pasar Badak Pandeglang. Hal ini bukan disebabkan oleh terputusnya rantai pasok, melainkan keengganan para pedagang untuk menjual komoditas tersebut lantaran harga beli dari distributor yang tinggi dan jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Minyak Goreng merek dagang milik Kementerian Perdagangan yang seharusnya menjadi solusi stabilitas harga tersebut justru hampir tidak terlihat. Para pedagang kini lebih memilih mengosongkan stok MinyaKita dan beralih fokus menjual minyak goreng kemasan premium kepada para pelanggan mereka.

Salah seorang pedagang di Pasar Badak, Asep mengungkapkan bahwa kondisi harga di lapangan sudah sangat melenceng dari regulasi pemerintah. Ia mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan satu liter MinyaKita dari pihak penyalur.

Harga ecerah yang semestinya dijual Rp15.700 per liter kini harus dijual Rp20.600 per liter "Harga dari sananya sudah tidak sesuai HET yang seharusnya Rp15.700 per liter. Saya malah harus beli dengan harga Rp20.600 per liter. Kalau dijual ke masyarakat, selisih harganya hanya terpaut seribu rupiah saja dengan minyak goreng kualitas premium," kata Asep, Minggu 10 Mei 2026.

Kondisi ini dinilainya menciptakan dilema bagi para pedagang kecil. Perbedaan kualitas yang cukup mencolok antara MinyaKita dengan minyak premium dikatakan Asep membuat konsumen lebih memilih menambah sedikit biaya untuk mendapatkan produk yang lebih baik.

Senada dengan itu pedagang lainnya, Aas mengaku sengaja tidak menjual MinyaKita untuk menghindari konflik dengan pembeli. Menurutnya, menjual MinyaKita saat ini hanya akan memancing perdebatan panjang terkait ketidaksesuaian harga antara label yang tertera di kemasan dengan kenyataan harga yang harus dibayar oleh pembeli.

"Saya lebih baik tidak jual MinyaKita sekalian daripada harus berdebat dengan pembeli soal harga. Faktual di lapangan harganya sudah terlalu tinggi, sangat jauh dari ketetapan pemerintah. Jadi daripada pusing menjelaskan ke konsumen, mending tidak usah stok," ujar Aas.

Ia berharap pemerintah segera turun tangan menyelesaikan carut-marut distribusi dan harga Minyakita. Mereka meminta pemerintah memastikan ketersediaan barang dengan harga yang benar-benar terjangkau agar fungsi Minyakita sebagai penstabil harga bisa kembali dirasakan oleh masyarakat kecil, bukan justru menjadi beban baru di pasar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....