BNPT-PLTU Labuan Berdayakan Desa Melalui Pengelolaan Limbah

  • 15 Des 2025 13:58 WIB
  •  Banten

KBRN, Pandeglang: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Pemerintah Daerah (Pemda), dan PT PLN Indonesia Power menginisiasi program "Desa Siap Jaga" di Desa Muruy, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten. Program ini tidak hanya berfokus pada pencegahan paham radikalisme dan terorisme, tetapi juga menanamkan fondasi ekonomi berbasis komunitas melalui pemanfaatan limbah padat Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan.

Inisiatif ini terwujud dalam sebuah workshop pembuatan paving block yang bahan bakunya bersumber dari FABA PLTU Labuan. Pemanfaatan limbah padat ini menjadi solusi ganda dalam mengatasi persoalan limbah industri sekaligus memberdayakan ekonomi anggota desa.

Baca juga: Jutaan Ton FABA Diolah Jadi Berbagai Bahan Pendukung Infrastruktur

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Eddy Hartono menegaskan, pencegahan terorisme tidak dapat dilepaskan dari pembangunan sosial dan ekonomi desa. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci membangun ketahanan masyarakat dari hulu.

“Desa Siap Jaga bertujuan membangun ketahanan berbasis komunitas, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya paham radikal, serta memperkuat deteksi dini agar masyarakat tidak takut melapor,” ujarnya usai peresmian progran Desa Siap Jaga, Senin (15/12/2025).

Menurut Eddy, program ini memiliki misi utama untuk membangun ketahanan berbasis komunitas. Dengan adanya kerja sama erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan stakeholder lain untuk menciptakan desa yang tangguh.

Baca juga: PLN Targetkan Program Co-Firing Pengganti Batu Bara di 52 PLTU

“Selain penguatan ekonomi, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya terorisme dan memperkuat deteksi dini,” ucap dia.

Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta mengungkapkan, pemanfaatan FABA memberikan manfaat ganda, baik bagi perusahaan maupun masyarakat.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga keberlanjutan sosial. Masyarakat sekitar PLTU ikut merasakan manfaat ekonomi, sementara kami memastikan operasional pembangkitan berjalan berkelanjutan,” katanya.

Baca juga: DPKP Pandeglang dan BNPT Gulirkan Program Pemberdayaan Pertanian

Namun, menurut Bernadus implementasi program ini terdapat tantangan serius terkait skala produksi dan pemasaran. Ia memperhitungkan, jika seluruh FABA dimanfaatkan, produksi paving block berpotensi mencakup luasan hingga satu hektare per hari.

“Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi lanjutan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berkesinambungan untuk mengakses pasar luas,” kata dia.

Sementara, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDTT), Yandri Susanto, menyambut baik dan menyatakan dukungan penuhnya terhadap kolaborasi lintas sektor tersebut. Ia mengisyaratkan akan adanya dukungan lanjutan untuk pengembangan workshop FABA di Menes. Mendes PDTT berharap inisiatif ini sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan desa sebagai fondasi ketahanan negara.

Baca juga: Petani Cilegon Terima Pupuk Organik dari Olahan FABA

“Ini merupakan penjabaran visi Presiden membangun dari desa. Ketika ekonomi desa tumbuh, ketahanan sosial ikut menguat,” ujarnya.

Dia berpesan agar kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan tokoh masyarakat di Desa Menes menjadi model strategi pencegahan terorisme. Strategi ini tidak hanya berfokus pada aspek keamanan.

“Tetapi juga mengedepankan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian desa sebagai benteng sosial jangka panjang,” ucap Mendes. (Ridwan Maulana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....