Bubur Sumsum "Gendong" Muyani, Dijual Sederhana Rasa Istimewa

  • 20 Feb 2024 08:39 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Bubur sumsum adalah salah-satu kudapan tradisional Indonesia yang memiliki cita rasa yang khas. Camilan ini terbuat dari tepung beras, disajikan bersama kuah santan dan gula jawa. Perpaduan tiga bahan utama itu menjadikan bubur sumsum menjadi terasa nikmat.

Tak heran, banyak yang kemudian menjajakan bubur sumsum, baik dengan berjualan di toko, lapak pinggir jalan, menggunakan gerobak, atau bahkan digendong.

Cara berjualan terakhir mungkin sudah jarang ditemui. Namun di Kota Serang, Banten, masih ada seorang wanita tangguh yang setia menawarkan bubur sumsumnya berkeliling ke permukiman sambil menggendong bakul yang berisi bubur sumsum.

Baca juga:

Cerita Lisna, Penjual Kebab dan Roti Maryam di "Sunday Morning"

Adalah Muyani, wanita asal Solo, Jawa Tengah yang sudah berjualan bubur sumsum “gendong” sejak tahun 2008 silam. Setiap harinya, dia berkeliling wilayah Sumur Pecung, Kota Serang untuk berdagang bubur sumsum.

Penampilan berjualannya mirip seperti penjual jamu. Menggedong bakul dengan sehelai kain batik yang diikatkan dipundak dan mengelilingi tubuhnya.

Tidak ada perbedaan signifikan dari bubur sumsum Muyani ini dengan bubur sumsum lainnya. Selain memang cara berjualannya yang digendong. Namun jangan remehkan rasanya. Meski nampak sederhana, bubur sumsum Muyani ini memiliki rasa yang istimewa.

Baca juga:

Kulik Usaha Minuman Smoothies yang Lagi Digandrungi Warga Serang

Buburnya terasa gurih, lembut, dan memiliki rasa manis yang pas. Menurut Muyani, hal itu dihasilkan karena dia memperhatikan kualitas bahan baku.

"Saya sudah 15 tahun lebih jualan bubur sumsum. Alhamdulillah semuanya saya buat sendiri menggunakan bahan berkualitas mulai dari beras premium," ucapnya kepada RRI, Senin (19/2/2024).

Ia meyakini jika membuat dengan bahan berkualitas, maka hasilnya pun akan lebih nikmat. Muyani menuturkan bahwa bubur sumsum itu dia produksi sendiri.

Muyani, penjual bubur sumsum dengan cara digendong. Bubur sumsum memiliki rasa manis, gurih, dan lembut. (RRI/Hasniar)

Namun karena berjualan dengan cara menggendong, maka Muyani tidak terlalu banyak membuat bubur sumsum untuk dijual. Untuk mengatasi beban jualan yang berat, Muyani pun menjadwalkan aktivitas berjualannya.

Dalam sehari ia berjualan dua kali. Pertama, ia mulai berjualan pukul 08.00 WIB. Kemudian yang kedua pada pukul 16.00 WIB. Tujuannya agar kualitas bubur sumsum tetap terjaga dan enak rasanya.

"Dalam sehari saya hanya menjual sekitar 2-3 kilogran saja. Jadi setelah pagi ini, nanti sore aja jualan lagi," ucapnya.

Baca juga:

KWT Melati Olah Aneka Makanan Bersumber Pangan Lokal

Harga untuk seporsi bubur sumsum miliknya hanya dibanderol Rp5.000. Ia berjualan sekitar Penancangan, Stadion Maulana Yusuf dan Cinanggung Kota Serang. Muyani mengaku tidak punya modal lebih untuk membuka toko atau gerobak. Sehingga dia memilih untuk menjual bubur sumsum dengan cara digendong.

Disisi lain, Mulyani juga berharap agar harga bahan-bahan seperti beras yang menjadi bahan utama membuat bubur sumsum segera turun. Sebab laba yang ia dapat sangat kecil untuk kebutuhan sehari-hari di tengah bahan kebutuhan lain juga ikut naik.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....