Gerakan Jumantik Jadi Kunci Penting Penanganan DBD

  • 26 Jun 2026 08:11 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Tangsel – Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie menegaskan, implementasi Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik menjadi pilar krusial di balik keberhasilan wilayahnya dalam mempertahankan status nol kematian (zero mortality) akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Capaian impresif ini berhasil dipertahankan secara konsisten sejak tahun 2024 hingga memasuki pertengahan tahun anggaran 2026 melalui penguatan partisipasi aktif masyarakat di sektor hulu permukiman.

Pernyataan tersebut disampaikan Benyamin saat menghadiri puncak peringatan ASEAN Dengue Day (ADD) Kota Tangerang Selatan Tahun 2026 yang dipusatkan di Aula Blandongan, Puspemkot Tangsel, Kamis 25 Juni 2026. "Sejak tahun 2024, 2025, dan sampai hari ini tingkat kematian akibat DBD itu sudah nol di Tangsel, dan ini merupakan hasil berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat," ujar Benyamin, Kamis 25 Juni 2026.

Benyamin menguraikan, pengendalian DBD di Tangsel sejatinya telah dikoordinasikan secara sistematis dan berakar dari inisiatif lokal sejak pembentukan rintisan kelompok Jumantik di wilayah Pamulang pada 2016 silam. Pihaknya menyadari bahwa secara epidemiologi, memutus rantai penularan total hingga nol kasus merupakan hal yang mustahil, namun Ia menekankan angka fatalitas atau kematian adalah target realistis yang wajib dipertahankan.

"Alhamdulillah saat ini angka keterjangkitan DBD di Tangsel terus cenderung menurun, dan itu memang tidak bisa kita nolkan, hanya bisa kita batasi. Tetapi, yang bisa kita nol-kan adalah tingkat kematian akibat DBD-nya," katanya.

Guna menginternalisasi gerakan ini menjadi budaya hidup sehat, dia menghimbau masyarakat untuk secara periodik melakukan inspeksi mandiri terhadap titik-titik mikro yang rawan menjadi sarang vektor nyamuk Aedes aegypti. Lokasi penampungan air bersih seperti bak mandi, bagian bawah dispenser, hingga wadah penampung air sisa pendingin ruangan disebutnya menjadi fokus utama penyisiran jentik guna mengoptimalkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Sebagai bentuk stimulus dan apresiasi kedaerahan, Pemkot Tangsel juga menginisiasi program sertifikasi "RW Bebas Jentik". Penilaian kelayakan zonasi ini dikatakan Benyamin dilakukan secara objektif melalui skema inspeksi mendadak (sidak) oleh tim verifikator dinas terkait guna memastikan konsistensi warga tanpa adanya rekayasa laporan di lapangan.

Melalui evaluasi berkala di tingkat kelurahan dan kecamatan, temuan wilayah dengan angka jentik yang masih tinggi akan terus diintervensi lewat pendampingan intensif. Melalui sinergitas lintas sektoral yang solid ini, jajaran eksekutif Tangsel optimistis indeks derajat kesehatan masyarakat akan terus meningkat serta mampu meminimalisasi potensi kejadian luar biasa (KLB) dengue di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....