Semakin Langka, Badak Jawa Hadapi Berbagai Ancaman Kepunahan
- 20 Sep 2023 13:20 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Kelangsungan hidup Badak Jawa atau Badak Cula Satu di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten semakin terancam. Populasi satwa yang masih kerabat dari hewan purba itu juga tidak pernah berkembang secara siginfikan. Bahkan cenderung mengalami penurunan akibat berbagai hal.
Humas Balai TNUK, Andri Firmansyah mengatakan, mamalia langka itu menghadapi berbagai ancaman yang membuat populasinya sulit berkembang.
“Jelas yang paling utama ancaman perburuan. Ini juga menjadi concern kami terkait ancaman perburuan terhadap Badak Jawa itu sendiri. Juga ada ancaman daripada perkawinan sedarah. Karena kalau sudah terjadi, akan mengubah genetik badak itu sendiri. Hal lain potensi bencana alam, dalam hal ini tsunami,” ujar dia, Rabu (20/9/2023).
Baca juga:
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Syafrudin Ingatkan Warga Peduli Lingkungan
Andri menyebut, saat ini populasi Badak Jawa yang tercatat oleh Balai TNUK hanya sebanyak 80 ekor. Jumlah itu terdiri atas 39 badak jantan dan 41 badak betina.
“Kesulitan di kami kan untuk menghitung populasi badak ini tidak sensus secara fisik, ya. Karena tipikal badak berbeda dengan satwa lainnya. Jadi kami berdasarkan tangkapan video trap yang kami simpan di jalur-jalur badak. Itu kan ada taksonomi badaknya untuk mengidentifikasi. Saat ini video trap yang sudah terpasang ada 126 (unit),” kata dia.
Andri menjelaskan, Balai TNUK terus melakukan upaya menjaga habitat Badak Jawa dan perkembangbiakannya. Seperti melakukan patroli rutin untuk memastikan tidak ada aktivitas perburuan liar, memasang ratusan kamera pengawas, dan terakhir membangun Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) seluas 5.100 hektare.
Baca juga
Tiga Pelaku Pencurian Hewan Ternak di Lebak Diciduk Polisi
“Menjadi tempat yang kedepannya itu akan kami intensifkan untuk konservasi badak. Rencananya di dalam lahan itu kita sesuaikan secara alami, mulai dari kubangan dan sebagainya. Ada tempat-tempat untuk breeding, penelitian, dan sebagainya. Sudah selesai dibangun tahun 2022 lalu, sekarang tinggal melaksanakannya,” ucap Andri.
Sementara Project Coordinator MERCI Yayasan Planet Urgensi Indonesia, Mulyono Sardjono menuturkan, salah satu yang bisa dilakukan untuk menjaga habitat Badak Jawa yakni dengan memulihkan ekosistem disekitarnya. Maka YPUI saat ini concern memulihkan kembali ekosistem yang mengalami kerusakan. Salah satunya dengan menanam ratusan ribu bibit mangrove di pesisir Ujung Kulon.
“Kita berupaya bahwa beberapa ekosistem yang mengalami kerusakan bisa dipulihkan lagi. Ketika secara habitat bisa dipulihkan, kemudian fauna bisa mempunyai ruang hidup yang lebih baik. Bukan hanya badak, tapi juga satwa lain seperti banteng bisa mendapat dampak dari konservasi yang kami lakukan,” kata dia.
Baca juga:
Balai TNUK dan YPUI Intensifkan Kerjasama Pemulihan Ekosistem Pesisir
Mulyono mengungkapkan, besarnya potensi yang mengancam kelangsungan hidup Badak Jawa harus diminimalisir. Soalnya, spesies Badak Jawa menjadi satu dari dua jenis badak yang masih tersisa di Indonesia, selain Badak Sumatra. Oleh karenan itu, perlu peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian Badak Jawa agar tidak punah.
“Yang kita lakukan salah satu kegiatannya itu adalah memberikan penyadaran kepada masyarakat kemudian kepada dunia pendidikan terkait dengan kekayaan alam ini yang sangat istimewa yaitu Badak Jawa, salah satu spesies badak di dunia yang saat ini sangat terancam keberadaannya karena berbagai macam aktivitas manusia maupun oleh alam,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....