Untirta dan DKP Banten Kembangkan Bubu Ramah Lingkungan

  • 25 Sep 2025 09:06 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten berkolaborasi mengembangkan alat penangkapan ikan ramah lingkungan berupa bubu lipat dan bubu naga. Inovasi ini ditujukan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan di Teluk Banten, yang selama ini menjadi tumpuan hidup nelayan di Kabupaten Serang dan Kota Serang.

Teluk Banten menghadapi tekanan tinggi akibat intensitas penangkapan rajungan dan ikan demersal yang terus meningkat. Penggunaan bubu lipat dengan ukuran jaring kecil tanpa celah pelolosan membuat rajungan berukuran kecil ikut tertangkap. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan populasi rajungan di masa depan.

Ketua tim pelaksana Program Dana Padanan 2025 Untirta, Adi Susanto, menjelaskan modifikasi dilakukan dengan mengganti jaring bubu lipat menggunakan ukuran 2,0 hingga 2,5 inci. “Dengan ukuran ini, rajungan kecil bisa lolos sehingga hanya rajungan layak tangkap yang tertangkap,” ujarnya kepada RRI, Rabu (24/9/2025).

Selain bubu lipat, perhatian juga diberikan pada bubu naga yang banyak digunakan nelayan untuk menangkap udang dan ikan demersal. Selama ini, bubu naga memakai jaring sangat kecil sehingga juvenil ikan dan udang kerap ikut tertangkap.

Ahli rancang bangun alat penangkapan ikan Untirta, Hendrawan Syafrie, menegaskan perlunya kesadaran nelayan untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan melalui penggunaan teknologi ramah lingkungan. "Modifikasi dinding bubu naga harus dilakukan menggunakan jaring yang lebih besar sehingga dapat menciptakan peluang untuk lolosnya juvenil ikan dan udang yang belum layak tangkap," kata Hendrawan.

Analis Pengujian Alat Penangkapan Ikan DKP Provinsi Banten, Indra Supiyono menambahkan bahwa pemanfaatan alat tangkap ramah lingkungan merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan. “Kolaborasi ini diharapkan meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus menjaga kelestarian perikanan,” katanya.

Program pendampingan yang dimulai sejak 5 September 2025 ini akan terus dievaluasi bersama nelayan. Hasil uji coba di lapangan menjadi dasar penyempurnaan desain agar teknologi bubu ramah lingkungan dapat diterima luas dan memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan perikanan Teluk Banten.

Bubu lipat dan bubu naga ramah lingkungan hasil pengembangan tim selanjutnya digunakan oleh nelayan dan hasilnya dievaluasi secara bersama untuk penyempurnaan desain yang telah ada. Teknologi yang dikembangkan harus mampu menjawab permasalahan di lapangan sehingga dapat diterima dengan baik dan digunakan oleh nelayan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....