Alergi Hewan Bisa Dikendalikan Lewat Lingkungan Sehat
- 19 Sep 2025 17:29 WIB
- Banten
KBRN, Serang: Penyakit kulit pada hewan peliharaan di wilayah perkotaan sering kali dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti debu, tungau yang menempel di karpet maupun sofa, hingga polusi udara menjadi pemicu utama munculnya reaksi alergi pada anjing dan kucing. Dokter Hewan, Yesi Pratiwi mengatakan bahwa kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena kerap disalahartikan sebagai penyakit jamur semata.
Yesi menjelaskan, kasus alergi kulit yang paling umum adalah atopic dermatitis, yaitu peradangan kulit akibat alergen lingkungan. “Hewan dengan genetik sensitif akan lebih rentan mengalami masalah ini. Alergen bisa berasal dari dalam rumah seperti debu, tungau karpet, sofa, hingga bed cover. Dari luar rumah, bisa dipicu polusi, asap kendaraan, dan serbuk dari tumbuhan,” ujarnya, Jumat (19/9/2025).
Baca juga: Waspadai Zoonosis, Penyakit dari Hewan ke Manusia
Selain debu dan polusi, asap rokok juga menjadi faktor pencetus alergi yang sering terabaikan. Partikel tembakau dari asap maupun bubuk rokok dapat menempel pada kulit hewan sehingga memicu gatal, kemerahan, bahkan kerontokan bulu.
“Jadi bukan hanya makanan yang jadi penyebab alergi. Lingkungan, termasuk paparan asap rokok, juga punya peran besar,” kata Yesi.
Lebih lanjut, Yesi mengingatkan bahwa gejala alergi kulit pada hewan kerap muncul di bagian tubuh dengan lapisan kulit tipis, seperti dada, perut, lipatan kaki, hingga telinga. Ciri-cirinya berupa gatal berlebihan, kemerahan, kulit menghitam bila sudah kronis, dan kerontokan bulu.
“Jangan buru-buru menyimpulkan itu jamur, karena diagnosis yang tepat hanya bisa ditegakkan oleh dokter hewan melalui pemeriksaan,” ucap Yesi.
Baca juga: Bahaya Self-Diagnose pada Hewan Peliharaan
Yesi juga menekankan pentingnya pencegahan. Salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal hewan, rutin membersihkan karpet atau sofa, menghindarkan mereka dari asap rokok, dan menjaga imunitas hewan tetap baik. “Alergi tidak bisa sembuh total, tapi bisa dikendalikan. Kuncinya ada pada perawatan jangka panjang dan lingkungan yang sehat,” katanya.
Yesi berharap masyarakat lebih memahami bahwa penyakit kulit pada hewan peliharaan tidak melulu disebabkan oleh jamur. Dengan kesadaran menjaga lingkungan sekitar, pemilik hewan dapat membantu anjing maupun kucing kesayangan mereka hidup lebih sehat di tengah tantangan polusi dan kepadatan kota.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....