Calung Renteng, Alat Musik Tradisional Khas Banten

  • 04 Mei 2024 14:45 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Tidak ada habisnya untuk mengulas khazanah budaya nusantara, salah satunya soal alat musik. Diisi oleh ribuan suku, Indonesia memiliki beragam alat musik tradisional yang berangkat dari kearifan lokal.

Salah satu jenis alat musik yang memiliki keunikan dan mengandung unsur budaya yang tinggi, yakni calung renteng. Alat musik ini biasanya dimainkan masyarakat Banten Kidul, atau Banten Selatan saat sedang bercocok tanam di ladang huma atau sawah.

Baca juga: Swara Jalawara Hawara, Pertunjukan Musik dari Tradisi Huma

Mengutip dari Indonesia Kaya, calung merupakan alat musik tradisional yang dikembangkan dari alat musik angklung. Angklung dan calung sama-sama terbuat dari bambu, hanya saja terdapat perbedaan pada bentuk dan cara memainkannya. Jika angklung dimainkan dengan cara dibenturkan, calung dimainkan dengan cara dipukul.

Sementara calung renteng adalah varian dari alat musik calung. Berbeda dengan calung pada umumnya, calung renteng tidak memiliki dudukan melainkan bilah-bilah bambu yang dihubungkan dan digantung menjulur ke bawah, dimulai dari tangga nada rendah hingga tinggi. Untuk memainkannya, calung renteng digantungkan pada rumah calung. Sementara, pemain calung duduk bersila sambil menabuh bilah-bilah bambu.

Menurut pendiri Sanggar Wanda Banten, Beni Kusnandar, calung renteng sudah berusia ratusan tahun sehingga alat musik tradisional ini dapat dikatakan warisan budaya yang harus dijaga.

Baca juga: Swara Jalawara Hawara Akhirnya Dirilis Dalam Format Digital

Calung renteng biasa digunakan untuk melodis dengan nada yang digunakan terdiri dari slendro dan Pelog. Umumnya, calung renteng dimainkan secara berkelompok, dalam satu kelompok, terdapat 4-8 orang yang memainkan masing-masing calung, selain itu rangkaian alat musik bambu lainnya yang biasa digunakan bersamaan adalah toleat atau suling, dodog lojor, jentreng.

Meski tergolong warisan budaya, dewasa ini permainan calung renteng mengikuti perkembangan zaman, sehingga calung renteng diciptakan dengan berbagai macam variasi didalamnya.

“Setelah Provinsi Banten terpisah dari Jawa Barat, masyarakat banyak yang tidak mengenal tradisinya, tahunya hanya debus saja. Dengan dilakukan variasi dalam permainan calung renteng membuat seniman dapat bertahan di tengah zaman, dan masyarakat mulai mengetahuinya,” ujarnya kepada RRI.

Baca juga: Kelas Gamelan Sunda, Upaya PCH Lestarikan Seni Musik Tradisional

Dia menuturkan, dengan banyaknya alat musik tradisional yang dimiliki Banten, membuat Provinsi Banten mendapat julukan sebagai perkusi terbanyak. Beni menilai, ini menjadikan generasi muda sebagai penerus agar bisa terus melestarikannya dan mengenalkannya ke anak cucu yang akan datang.

“Musik tradisi ini peninggalan orang tua, leluhur kita, dulu mereka sudah menciptakan alat-alat musik yang luar biasa, sedangkan saat ini kita hanya bisa menikmatinya, dan yang bisa kita lakukan minimal mengenalnya terlebih dahulu, setelah itu kita akan cinta dan akhirnya melestarikan kebudayaan dan alat musik tradisional khas Banten tersebut,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....