Memburu Berkah Hewan Kurban di Kaki Gunung Pandeglang

  • 07 Mei 2026 14:47 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Menjelang Iduladha, suasana disebuah peternakan di Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, mulai berubah menjadi lebih hidup. Kandang-kandang yang biasanya tenang kini dipenuhi aktivitas tawar-menawar antara peternak dan para pembeli yang datang dari berbagai daerah. Suara sapi yang bersahutan seakan menjadi latar alami dari tradisi tahunan penuh makna, menandai geliat ekonomi peternak lokal.

Peternakan sapi dibawah kaki Gunung Pulosari tersebut kini menjadi magnet bagi pencari hewan kurban, bahkan bagi mereka yang datang dari luar provinsi. Meski hari raya masih menyisakan waktu beberapa minggu, stok sapi di sini sudah ludes hingga 80 persen.

Muhammad Ari Pragantha, sang pengelola, tampak sibuk melayani konsumen yang ingin memastikan kurban terbaik mereka jauh-jauh hari sebelum stok premium habis diburu orang lain. Kenaikan harga pakan dan biaya transportasi tahun ini memang mengerek harga jual sapi antara Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ekor. Namun, kenaikan harga tersebut nampak tidak menyurutkan semangat para jemaah untuk menjalankan ibadah kurban.

“Kita memang spesialis penggemukan sapi potong, pakan yang dipakai dirancang agar sapi setiap hari bertambah gemuk. Alhamdulillah, pemesan terjauh sampai ke Jawa Timur, Jawa Tengah, Bandung, hingga Jabodetabek semua bisa kita layani,” ujar Ari Pragantha di tengah keriuhan kandang, Kamis 7 Mei 2026.

Harga yang ditawarkan pun sangat variatif, mulai dari sapi seharga Rp19 juta hingga Rp90 juta jenis jumbo berbobot satu ton yang menembus angka Rp25 juta.

Peternakan ini dikatakannya memiliki daya tarik tersendiri karena spesialisasi mereka pada proses penggemukan sapi potong. Ari menjamin setiap sapi yang keluar dari kandangnya akan memiliki bobot lebih berat dibandingkan saat pertama kali dipesan. Hal ini dikatakannya menjadi jaminan bagi pembeli yang khawatir hewan pilihannya justru menyusut saat hari pengiriman tiba.

"Alhamdulillah meski masih tiga minggu lagi, penjualan sudah mencapai 80 persen," ujarnya.

Jenis sapi yang ditawarkan pun sangat beragam, mulai dari sapi Bali, Madura, Ongole, hingga jenis premium seperti Simmental dan Limousin. Adapun tahun ini, Ia menjelaskan tren permintaan bergeser ke arah sapi-sapi jumbo.

Banyak pembeli mencari bobot di atas 800 kilogram untuk memuaskan kebutuhan kurban di masjid-masjid besar maupun perumahan elit. Selain beragamnya jenis sapi dan ukuran, Ari mengatakan keunggulan sistem timbangan riil menjadi alasan kuat bagi para pembeli untuk datang ke peternakannya.

Salah seorang pembeli yang datang jauh-jauh dari Jakarta Utara, Ali Nurulhaq yang mengaku sudah empat tahun mempercayakan kebutuhan kurban di peternakan ini. Bagi Ali, kepastian bahwa sapi tidak akan menyusut saat pengiriman adalah nilai mahal yang sulit ditemukan di lapak pedagang musiman.

“Kalau beli di lapak, sapi sering dikirim dalam kondisi kurang sehat atau beratnya turun. Di Sapi Jawara ini malah bisa naik 5 kilogram saat hari pengiriman karena memang fokus penggemukan," ujarnya.

Ali menceritakan pengalaman pahit di tempat lain yang sering kali mengirimkan sapi dalam kondisi lebih kurus dibandingkan saat pertama kali dipesan. Baginya, bertransaksi di peternakan ini memberikan ketenangan batin karena menggunakan sistem timbangan riil, bukan sekadar taksiran mata.

"Kita beli harga borongan sampai diantar, tidak ada lagi biaya tambahan pemeliharaan, dan kalau sakit dijamin ganti yang bagus,” kata Ali Nurulhaq saat menjelaskan alasannya memborong tujuh ekor sapi lebih awal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....