Boedak Saung Santuni Lansia yang Tinggal di Rumah Reyot
- 05 Jul 2025 12:08 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Hujan deras mengguyur Kampung Badur Badur RT/RW 002/001, Desa Rancateureup, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, siang itu. Di balik dinding bilik yang bolong dan atap reyot yang disangga bambu, seorang perempuan renta duduk termenung di dekat pintu dapur.
Matanya nanar menatap tanah basah di pelataran rumahnya yang sempit. Dialah Salimah (66), janda lanjut usia (lansia) dengan tubuh ringkih dan pendengaran yang sudah memudar, yang tetap bertahan di rumah yang nyaris roboh bersama anaknya yang juga menyandang disabilitas.
Baca juga: 140.258 Penduduk Pandeglang Tergolong Miskin Ekstrem
Tiba-tiba langkah-langkah kaki dan suara salam terdengar dari luar rumah. Sejumlah relawan dari Perkumpulan Boedak Saung Barokah Putra Mandiri (PBSBPM) menembus hujan deras, membawa bungkusan sembako, susu, dan biskuit untuknya.
Salimah tersentak, tubuhnya bergetar melihat banyak orang datang menghampirinya. Meski tak lagi fasih bicara, air mata yang jatuh di pipinya sudah cukup menjelaskan betapa terharunya ia atas kehadiran mereka.

Kondisi luar rumah Nenek Salimah yang sudah reyot.
“Untuk membantu sesama, tak harus menunggu kita berlimpah harta. Apa yang bisa kita lakukan, ya lakukan. Apa yang bisa kita berikan, ya berikan. Semoga ini meringankan beban Nek Salimah,” ujar Ketua Umum PBSBPM, Mardiana Tirtalaksana saat menyalurkan bantuan bagi Nenek Salimah, Jumat (4/7/2025).
Di hadapan rumah yang hampir runtuh itu, Mardiana menyapukan pandangannya. Bagian ruang depan, dapur, hingga samping rumah, semuanya sudah disangga bambu. Dinding-dinding bilik berlubang ditambal kain, lantainya hanya tanah lembap, dan udara pengap membuat siapa pun yang masuk merasa sesak.
Baca juga: Perkumpulan Boedak Saung Mantapkan Program Kerja 2024
Salimah tak mengucap sepatah kata pun. Namun, ia menunduk dalam-dalam sambil terus memeluk bungkusan sembako itu. Bahunya berguncang pelan menahan tangis.
“Kami hanya bisa berbuat semampu kami. Tapi kami berharap masyarakat dan aparatur desa di sini terus membantu dan memperhatikan keberadaan Nek Salimah,” kata dia.
Sementara Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pandeglang, Wawan Setiawan mengaku, sudah melakukan pemeriksaan data Nenek Salimah. Hasilnya diketahui Salimah sudah masuk dalam program Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Sedangkan rumah Nenek Salimah, dikelilingi oleh anak–anaknya belum pernah mendapatkan bantuan Pemerintah Pusat, tetapi selalu dibantu dari BLT (Bantuan Langsung Tunai) DD (Dana Desa)," ucapnya.

Ketua Umum PBSBPM, Mardiana Tirtalaksana (kiri) saat berdialog dengan Nenek Salimah dan anaknya.
Adapun terkait bantuan perbaikan rumah, Wawan menyebut pemerintahan desa sempat mengajukan proposal perbaikan rumah sebanyak dua kali, tetapi hingga kini belum ada respons.
"Pernah mengajukan proposal tahun 2023 dan 2024, ke Perkim Kabupaten Pandeglang," kata Wawan.
Di sisa usianya, dengan tubuh yang makin rapuh, Salimah masih menanti. Menanti uluran tangan dari siapa saja yang tergerak hatinya, agar rumah itu tak lagi jadi ancaman bagi hidupnya. Agar ia bisa melewati hari-hari tuanya dengan lebih layak, dan tak lagi hanya ditemani dinding-dinding bolong serta atap yang nyaris ambruk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....