Mantan Kades di Lebak Dedikasikan Hidupnya untuk Pengobatan Alternatif

  • 27 Apr 2025 11:34 WIB
  •  Banten

KBRN, Lebak: Di sebuah padepokan sederhana di Jalan Raya Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, seorang pria paruh baya bernama asli Epi Suhaepy, atau yang dikenal juga dengan nama Aphi Jaro, mendedikasikan hidupnya untuk mengobati orang-orang yang membutuhkan bantuan medis maupun non-medis. Berusia 55 tahun, Aphi Jaro kini fokus sepenuhnya membantu pasien setelah mengakhiri kariernya sebagai Kepala Desa Sangiang Tanjung selama dua periode, yakni 2001 hingga 2011.

"Saya sudah 13 tahun fokus mengobati orang sejak berhenti dari kepala desa. Dulu waktu masih menjabat, memang sudah suka membantu, tapi belum bisa fokus," tutur Aphi Jaro saat ditemui di padepokannya, Padepokan Cinunggal Putra, yang berlokasi di Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak.

Setiap hari, tanpa mengenal libur, Aphi Jaro membuka layanan pengobatan mulai pukul 08.00 WIB hingga larut malam, didampingi sembilan orang asisten secara bergantian. Aktivitas ini, kata dia, bukanlah beban, melainkan panggilan hati.

Aphi Jaro dibantu asistennya menangani pasien dengan keluhan keseleo tempurung lutut. (Foto: RRI/Jaliah Winarti)

Metode pengobatan yang diterapkan Aphi Jaro masih bersifat tradisional dan manual, menangani berbagai penyakit seperti stroke, ginjal, asam urat, ambeien, darah tinggi, saraf kejepit hingga gangguan non-medis seperti ketempelan, santet, dan gangguan jiwa.

"Kami hanya perantara, yang menyembuhkan tetap Allah. Lewat tangan kita saja," ucapnya dengan penuh keikhlasan.

Aphi Jaro juga menegaskan bahwa tidak pernah ada patokan tarif dalam pelayanannya. "Diberi ya diterima, tidak diberi pun tidak masalah. Yang penting niatnya membantu," katanya.

Sikap ini bukan tanpa dasar. Menurut Aphi Jaro, kemampuan mengobatinya diwariskan dari orang tuanya dengan pesan tegas: "Bantulah orang yang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan," ujarnya mengenang.

Suka Duka dalam Menangani Pasien

Aphi Jaro dibantu asistennya mengobati pasien dengan keluhan asam lambung. (Foto: RRI/Jaliah winarti)

Dalam pengabdiannya, suka dan duka silih berganti. Ia merasa bahagia saat melihat pasien yang semula lumpuh akibat stroke kini bisa berlari. Namun ada pula tantangan berat, terutama saat menangani pasien gangguan jiwa atau penyakit berat.

"Kadang ada yang ngamuk, kalap, bahkan belum sempat dipegang sudah kesurupan. Itulah ujiannya," ujarnya sambil mengenang ketika mengobati pasien dengan kasus non- medis.

Pasien dengan gangguan jiwa bahkan harus menginap di padepokan, menempati rumah-rumah yang telah disiapkan khusus. Mereka diawasi 24 jam, diberikan makan, meski kerap tanpa pendampingan keluarga.

Warisan Ilmu untuk Generasi Berikutnya

Kini, Aphi Jaro mulai mewariskan ilmunya kepada putra keduanya, Abad. Meski Abad mengaku belum sekuat sang ayah. Ia mengaku diusianya yang baru 24 tahun, kadang ia masih labil.

"Saya masih belum berani turun langsung. Apalagi kalau harus menangani pasien yang sakit berat atau gangguan jiwa," ujar Abad.

Abad juga menambahkan, keluarga memahami sepenuhnya kesibukan sang ayah. "Kalau hari libur pasien bisa ratusan. Kita maklum, karena ayah lebih banyak waktunya untuk pasien," ujarnya.

Saung tempat pasien penderita gangguan jiwa di Padepokan Aphi Jaro. (Foto: RRI/Jaliah Winarti)

Pasien Merasakan Manfaat

Muhammad (55), salah satu pasien asal Harapan Jaya, Rangkasbitung, mengaku sudah merasakan manfaat setelah berobat ke padepokan Aphi Jaro.

"Sudah lima kali berobat. Sekarang sudah mulai bisa makan. Dulu tiap makan, muntah lagi," katanya.

Keluarga Muhammad bahkan menyebutkan bahwa sebelum berobat, Muhammad sering kali bertindak di luar kesadaran, seperti mengamuk. Kini kondisinya mulai membaik.

"Kami tidak pernah dipatok biaya, hanya memberi seikhlasnya sesuai kemampuan," ujar keluarga Muhammad.

Padepokan Cinunggal Putra milik Aphi Jaro di Desa Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, Kab. Lebak, Banten. (Foto: RRI/Jaliah Winarti)

Pelayanan Tanpa Batas

Aphi Jaro tak hanya memberikan pengobatan, tapi juga memberikan pengorbanan besar, terutama kepada pasien-pasien yang tidak memiliki keluarga yang setia mendampingi. Semua itu dilakukan dengan ketulusan, menjadikan padepokan ini sebagai oase bagi mereka yang mencari kesembuhan, baik secara medis maupun spiritual.

"Kalau sudah melihat pasien sembuh, rasanya luar biasa puas. Semua capek dan letih hilang," ujar Aphi Jaro sambil tersenyum.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....