Bisnis Profesional Wanita Tingkatkan Pemberdayaan Perempuan di Era Digital

  • 06 Apr 2026 16:22 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Transformasi digital yang kian cepat mendorong organisasi perempuan untuk beradaptasi secara strategis, termasuk dalam pengelolaan usaha dan organisasi. Presiden Federasi Bisnis Profesional Wanita (BPW) Indonesia, Giwo Rubianto Wiyogo menegaskan, perempuan tidak hanya harus mampu mengikuti perkembangan digital, tetapi juga menjadi bagian dari penggerak perubahan tersebut.

“Era digital adalah bagian dari globalisasi yang tidak bisa kita hindari. Mau tidak mau, kita harus siap dan mampu menghadapinya, baik dalam mengelola organisasi maupun menjalankan usaha,” ujar Giwo usai Pengukuhan Federasi BPW Klub Banten Periode 2025-2028, di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Senin, 6 Apri 2026.

Menurutnya, digitalisasi telah menjadi faktor kunci dalam percepatan pertumbuhan bisnis. Pelaku usaha yang tidak memanfaatkan teknologi digital, terutama dalam pemasaran, akan tertinggal dibandingkan mereka yang sudah mengadopsi sistem berbasis online.

“Kalau usaha tanpa digitalisasi, tentu akan berjalan lebih lambat. Dengan marketing online dan pemanfaatan teknologi, pertumbuhan bisa jauh lebih pesat,” katanya.

Namun demikian, Giwo juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko di ruang digital, khususnya bagi perempuan. Ia menyoroti maraknya kasus penipuan berbasis online dan berbagai bentuk scam yang kerap menyasar pelaku usaha.

“Digitalisasi juga punya risiko. Banyak perempuan yang menjadi korban penipuan melalui platform digital. Karena itu, penting untuk memiliki rambu-rambu keamanan dalam memanfaatkan teknologi,” ucapnya.

Giwo juga mengapresiasi kepengurusan baru BPW Banten yang dinilai inovatif dan responsif dalam menerjemahkan program-program organisasi ke dalam aksi nyata. Salah satunya adalah menginisiasi pelatihan tatap muka sebagai tindak lanjut dari program daring.

“Kepengurusan baru ini sangat cepat merespons. Dari pelatihan online, langsung dikembangkan menjadi pelatihan tatap muka dengan peserta yang cukup besar,” ujar Giwo.

Ke depan, ia berharap pelatihan yang diberikan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan dapat diimplementasikan secara nyata oleh para peserta, khususnya pelaku UMKM dan profesional perempuan.

“Kami berharap pelatihan ini benar-benar dimanfaatkan, tidak hanya selesai saat kegiatan, tetapi diterapkan untuk mengembangkan usaha dan profesi masing-masing,” kata dia.

Sementara Presiden BPW Indonesia Klub Banten, Irna Narulita menilai, pemanfaatan Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) membuka peluang besar bagi perempuan untuk mengembangkan usaha secara mandiri. Menurut Irna, teknologi seperti chatbot ChatGPT dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan yang mudah diakses.

“AI ini seperti konsultan. Kita bisa tanya apa saja, mulai dari cara memulai usaha kecil, strategi pemasaran, sampai pengembangan produk,” katanya.

Irna menambahkan, pemberdayaan perempuan juga diarahkan pada penguatan sektor home industry dan ekonomi kreatif. Banyak peluang usaha yang bisa dikembangkan dari rumah, termasuk pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Hal sederhana seperti limbah kerang bisa diolah menjadi produk kreatif seperti hiasan rumah. Ini bisa menjadi peluang usaha,” ujarnya.

Menurutnya, langkah ini relevan karena sebagian besar pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan. Dengan dukungan teknologi, usaha mikro memiliki peluang besar untuk berkembang. Ia pun menargetkan adanya peningkatan bertahap bagi pelaku usaha perempuan, mulai dari skala mikro, kecil, hingga menengah dalam beberapa tahun ke depan.

“Dengan semakin terbukanya akses terhadap teknologi, perempuan kini memiliki peluang lebih besar untuk berkembang, dari usaha rumahan hingga menembus pasar yang lebih luas,” kata Irna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....