Produksi Kue Gipang Melonjak saat Ramadan

  • 06 Mar 2026 13:05 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Produksi kue gipang di Kampung Magelaran Cilik, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang meningkat selama Ramadan. Permintaan camilan tradisional tersebut bertambah menjelang Hari Raya Idulfitri.

Pemilik usaha Gipang Cahaya Nawaf, Sam’ani, mengatakan pesanan mulai meningkat ketika memasuki pertengahan Ramadan. Kondisi ini berbeda dibandingkan hari-hari biasa.

“Kalau mau Lebaran memang beda dengan hari biasa. Biasanya mulai ramai sekitar 15 hari puasa,” kata Sam’ani saat ditemui di lokasi produksinya, Jumat, 6 Maret 2026.

Saat permintaan meningkat, produksi gipang bisa mencapai sekitar setengah kuintal per hari. Sementara pada hari normal, produksi berkisar sekitar 25 kilogram per hari.

Meski sejumlah bahan baku mengalami kenaikan harga, Sam’ani tetap mempertahankan harga jual produk. Ia menyiasatinya dengan menyesuaikan ukuran gipang yang diproduksi.

Harga gipang saat ini dijual Rp20.000 per toples. Menurut Sam’ani, harga tersebut sudah berlaku cukup lama.

“Sekarang satu toples Rp20.000, itu sudah lama. Walaupun bahan-bahan naik, harga tetap,” ujarnya.

Gipang produksi Cahaya Nawaf dipasarkan ke beberapa daerah, di antaranya Jakarta, Cilegon, dan Anyer. Permintaan terbanyak datang dari wilayah Cilegon.

Jumlah pengiriman menyesuaikan pesanan pelanggan. Dalam kondisi ramai, pesanan dapat mencapai sekitar 50 lusin dalam sekali pengiriman. Sementara ketika permintaan menurun, pesanan berkisar sekitar lima lusin.

Dari sisi ketahanan produk, gipang dapat bertahan hingga tiga sampai empat bulan apabila disimpan di tempat yang sejuk. Penyimpanan di dalam kulkas juga dinilai aman untuk menjaga kualitas makanan tersebut.

Sam’ani mengaku telah menjalankan usaha produksi gipang selama sekitar tiga tahun. Ramadan menjadi periode dengan permintaan tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Di bagian produksi, proses pemotongan gipang dilakukan setelah adonan yang telah dicetak mengeras. Potongan-potongan tersebut kemudian disusun sebelum dimasukkan ke dalam toples untuk dipasarkan. Salah satu pekerja bagian produksi, Anis Fu’ad, menyebutkan dalam sehari mereka mampu menghasilkan sekitar 25 papan gipang.

“Sehari biasanya bisa sekitar 25 papan,” kata Anis Fu’ad saat ditemui di lokasi produksi.

Ia menjelaskan seluruh tahapan pembuatan gipang dilakukan secara bertahap, mulai dari memasak bahan, mencetak adonan, hingga proses pemotongan sebelum akhirnya dikemas. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar dua hari sampai gipang siap dijual.

Rekomendasi Berita