Jelang Lebaran, Warga Magelaran Cilik Sibuk Produksi Kue Satu

  • 02 Mar 2026 16:47 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Aktivitas warga di Kampung Magelaran Cilik, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, meningkat jelang Lebaran. Sejumlah rumah terlihat sibuk memproduksi kue satu, salah satunya usaha rumahan Cahaya Amah yang setiap hari mengolah kacang hijau menjadi penganan khas hari raya.

Kampung ini sejak lama dikenal sebagai sentra kue satu. Menjelang Idulfitri, hampir setiap sudut gang dipenuhi aktivitas penjemuran adonan, penggilingan kacang hijau, hingga proses pengepakan untuk dikirim ke berbagai toko.

Kue satu yang dihasilkan memiliki cita rasa khas. Terbuat dari kacang hijau pilihan yang digiling halus dan dicampur gula, kue ini dikenal dengan teksturnya yang lembut dan lumer di mulut. Rasa manisnya ringan, berpadu dengan aroma kacang hijau yang kuat, sehingga menjadi suguhan favorit saat hari raya.

Pemilik Cahaya Amah, Faikoh mengatakan, dalam sehari pihaknya mampu mengolah sekitar satu karung kacang hijau. Dari bahan tersebut dihasilkan kurang lebih 25 kilogram adonan kue satu.

“Sehari paling satu karung. Tapi tergantung cuaca. Kalau panas terik bisa dijemur, cepat kering. Kalau hujan atau kurang panas, harus pakai oven,” ujarnya kepada RRI, Senin, 2 Maret 2026.

Menurut Faikoh, proses pengeringan menjadi tahapan penting agar tekstur kue tetap halus dan tidak mudah hancur saat dikemas. Saat musim hujan, kacang hijau lebih lama kering sehingga waktu produksi bertambah.

“Kalau lagi hujan, kacangnya lama kering. Jadi produksi ikut mundur,” katanya.

Pesanan biasanya mulai meningkat sejak sebelum Ramadan dan terus bertambah memasuki pertengahan bulan puasa. Pengiriman ke toko-toko rutin dilakukan untuk menjaga stok tetap tersedia hingga Lebaran.

“Biasanya sebelum puasa sudah mulai stok. Masuk tanggal 10 Ramadan pesanan makin banyak dan mulai kirim ke toko-toko,” ucapnya.

Proses pembuatan kue satu memakan waktu sekitar dua hari. Hari pertama untuk penggilingan kacang hijau, pencampuran gula, pencetakan, serta penjemuran atau pengovenan. Hari berikutnya masuk tahap pengemasan.

Selain kue satu, Cahaya Amah juga memproduksi sagon dan gipang. Dalam masa ramai, delapan orang pekerja terlibat, mulai dari bagian produksi hingga pengepakan.

Salah satu pekerja, Urfiah menyebut, dalam kondisi ramai satu kali pengiriman bisa mencapai 25 dus. Setiap dus berisi satu lusin kue yang dipasarkan ke Serang, Cilegon hingga Merak.

Dirinya bertugas di bagian produksi dan pengemasan, dalam masa ramai satu kali pengiriman bisa mencapai 25 dus, dengan isi satu dus sebanyak satu lusin. “Kalau jelang Lebaran bisa kirim 25 dus sekali. Satu dus isinya 12,” ujarnya.

Untuk harga, Urfiah menyebut satu toples dibanderol sekitar Rp10 ribu untuk distribusi ke toko. Harga tersebut disesuaikan dengan biaya bahan baku dan produksi, terutama saat permintaan meningkat menjelang Lebaran.

Dengan cita rasa yang tetap dipertahankan dan proses yang dikerjakan secara teliti, kue satu dari Kampung Magelaran Cilik terus menjadi andalan masyarakat sebagai sajian khas Lebaran.

Rekomendasi Berita