Petani Timun Suri di Lebak Mulai Panen

  • 21 Feb 2026 19:34 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Datangnya bulan suci Ramadan menjadi momentum yang dinanti para petani timun suri di Kabupaten Lebak. Buah musiman yang identik sebagai menu berbuka puasa itu mulai dipanen dan banyak diburu pedagang untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Di Kampung Cikabayan, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, petani timun suri, Sarif (64) tampak sibuk memetik timun suri di kebunnya. Buah yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan “Bonteng Puan” itu tumbuh subur di lahan miliknya.

Sarif mengatakan, setiap menjelang Ramadan, dirinya rutin menanam timun suri. Musim puasa menjadi waktu panen yang paling ditunggu karena permintaan meningkat tajam.

“Setiap musim puasa sebulan penuh itu minimal ambil timun setiap hari. Sehari bisa satu setengah sampai dua kuintal,” kata Sarif saat ditemui di kebunnya, Sabtu, 21 Februari 2026.

Ia menuturkan, hampir separuh warga di kampungnya juga menanam timun suri untuk memanfaatkan tingginya permintaan saat Ramadhan. Persiapan tanam biasanya dilakukan dua hingga tiga bulan sebelum bulan puasa tiba.

“Kalau di kampung ini hampir separuh warga nanam. Biasanya dua atau tiga bulan sebelum puasa sudah siap tanam,” ujarnya.

Dari sisi pemasaran, Sarif mengaku tidak mengalami kesulitan. Para pengepul datang langsung ke kebun untuk membeli hasil panen petani.

“Ada yang pakai motor, ada juga yang pakai mobil. Mereka keliling ke tiap-tiap kampung untuk mengambil hasil panen dari petani seperti saya. Jadi kami tidak perlu repot membawa hasil panen ke pasar,” katanya.

Penjualan dilakukan dengan dua sistem, yakni per buah maupun per kilogram, tergantung permintaan pembeli. Harga per buah berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000, menyesuaikan ukuran timun suri besar kecilnya. Meski permintaan meningkat selama Ramadan, tetapi produksi tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Curah hujan tinggi saat masa tanam menyebabkan banyak tanaman membusuk dan gagal berkembang. “Waktu tanam itu hujannya hampir tiap hari. Pohon masih kecil sudah kena hujan terus, jadi banyak yang busuk. Buah pertama kurang menghasilkan,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, pendapatan Sarif diperkirakan turun. Jika pada musim sebelumnya ia mampu meraup Rp5 juta hingga Rp8 juta selama Ramadan, tahun ini ia memperkirakan penghasilannya hanya sekitar Rp3 juta.

“Kalau tahun-tahun bagus bisa sampai tujuh atau delapan juta. Sekarang mungkin tiga jutaan saja, karena banyak yang gagal akibat hujan,” tuturnya.

Meski demikian, Sarif tetap bersyukur timun suri masih menjadi komoditas andalan setiap Ramadan. Ia berharap cuaca ke depan lebih bersahabat agar hasil panen berikutnya meningkat dan kembali memberikan keuntungan bagi para petani di Kabupaten Lebak.

Rekomendasi Berita