Lembaga Kebudayaan di Pandeglang Cetak 10 Perajin Alat Musik Bambu

  • 17 Mei 2024 17:51 WIB
  •  Banten

KBRN, Pandeglang: Sebanyak sepuluh pemuda di Kabupaten Pandeglang, Banten, mendapat pembekalan untuk membuat berbagai alat musik tradisional Banten dari bahan dasar bambu. Mereka diarahkan untuk menjadi perajin alat musik bambu yang saat ini tidak dimiliki oleh Kabupaten Pandeglang.

Tahap pertama, 10 pemuda dengan latar belakang berbeda ini, mengikuti lokakarya yang akan dilangsungkan selama 15 hari. Lokakarya ini sudah berjalan sejak 15 Mei 2024.

Adalah Ekosistem Boeatan Tjibalioeng, sebuah lembaga kebudayaan yang berdomisili di Pandeglang Selatan, yang menjadi inisiator lokakarya ini. Salah satu tujuannya, untuk menghasilkan perajin yang secara khusus membuat alat musik dari bambu. Mengingat saat ini, hampir tidak perajin alat musik dari bambu di Pandeglang.

Baca juga: Calung Renteng, Alat Musik Tradisional Khas Banten

“Lokakarya ini mempelajari keterampilan pembuatan 12 alat musik bambu khas Banten meliputi calung renteng, calung bumbung, toleat, rengkong, hatong, gong lodong, lodang, kepyar, karinding, suling kumbang, tangtawing kohkol, dan calintu,” kata Ketua Ekosistem Boeatan Tjibalioeng, Rizal Mahfud kepada RRI, Jumat (17/5/2024).

“Mereka masih anak-anak muda, ada yang tukang bengkel, tukang sayuran. Tapi diluar pekerjaannya, mereka punya basic bikin kerajinan. Akhirnya mereka tertarik mengikuti lokakarya ini. Sejauh ini mereka sudah bikin gong, dan calung renteng empat set. Dari dua hari itu sudah kelihatan potensinya,” ujarnya.

Dia menuturkan, ide ini dimulai saat Abah Kalimi asal Cibitung, Pandeglang, dinobatkan sebagai maestro calung renteng melalui program Anugerah Kebudayaan Indonesia di tahun 2021. Setelah penobatan Abah Kalimi, Pemkab Pandeglang sempat membuat kebijakan untuk mewajibkan pengajaran calung renteng dan instrumen musik bambu lainnya di sekolah-sekolah melalui muatan lokal.

Peserta lokakarya penciptaan alat musik dari bambu ini berasal dari sejumlah kecamatan di Pandeglang, seperti Cibaliung dan Cibitung. (Dok. Ekosistem Boeatan Tjibalioeng)

“Namun, kebijakan itu terkendala oleh penyediaan instrumen musik bambu yang terhambat karena ketiadaan pengerajin dan juga minimnya ketersediaan bambu sebagai bahan baku. Kalau beli harus ke Bandung dan membutuhkan biaya yang besar,” ujarnya.

“Nah ini seolah menjadi jawaban dari apa yang menjadi permasalahan itu. Akhirnya kita membuat lokakarya pembuatan alat musik, kita mencetak SDM perajinnya dengan menghadirkan tiga narasumber yang punya pengalaman membuat alat musik,” kata Rizal.

Dirinya mengungkapkan, selain membuat alat musik bambu khas Banten, pihaknya berencana membuat alat musik berdawai dari bambu, seperti gitar. Tidak sampai di situ, setelah lokakarya pembuatan alat musik, Rizal dan rekan-rekannya akan melanjutkan lokakarya lainnya, yakni membuat karya musik dari instrumen yang sudah dibuat.

Baca juga: Kelas Gamelan Sunda, Upaya PCH Lestarikan Seni Musik Tradisional

“Hasil lokakarya pembuatan alat musik itu nanti desiminasinya diakhir kegiatan akan dipamerkan dan pameran keliling ke Banten. Bahkan tidak menutup kemungkinan kami tawarkan ke hotel dan kafe,” ucapnya.

Rizal menerangkan, seluruh rangkaian ini merupakan bagian dari program besar Ekosistem Boeatan Tjibalioeng bertajuk Jaga Jagat: Kembali pada Bambu. Program ini menjadi kampanye dan upaya untuk mengajak masyarakat kembali menyadari peran, fungsi, dan nilai bambu bagi kehidupan. Jaga Jagat memanfaatkan program Dana Indonesiana dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), yang bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

“Selain itu ada juga penanamannya. Yang ditanamnya itu varietas bambu yang kebutuhannya untuk alat musik. Biar nanti Ketika butuh bahan, kita punya tanaman sendiri. Karena setiap alat musik, bahan baku bambunya berbeda varietas,” katanya.

Peserta lokakarya tengah membuat salah satu instrumen dari bambu, Calung Renteng. (Dok. Ekosistem Boeatan Tjibalioeng)

Rizal berharap, program ini dapat berkontribusi terhadap kelestarian objek pemajuan kebudayaan, menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Harapan kita si perajin punya nilai ekonomi dan menganggap bambu lebih berharga. Karena di Cibaliung bambu banyak sekali tapi belum ada yang bisa mengolah,” ucap pria yang mengenyam pendidikan di ISBI Bandung ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....