BKKBN Soroti Lonjakan Kasus Fatherless di Banten
- 03 Des 2025 12:17 WIB
- Banten
KBRN, Serang: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Banten menyoroti meningkatnya fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah secara emosional dalam keluarga, berdasarkan hasil awal Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 (PK25).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan hadir atau tidaknya sosok ayah secara fisik, tetapi juga keterlibatan emosional yang berpengaruh langsung pada perkembangan anak. Fenomena ini dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah daerah karena berdampak jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia.
Baca juga: BKKBN Banten Dorong Optimalisasi Delapan Fungsi Keluarga
Penata KB Ahli Muda Perwakilan BKKBN Banten, Arung Dewa Raja Manessa menjelaskan, fatherless merupakan kondisi ketika anak tidak mendapatkan kehadiran emosional dari ayah, meski sosok tersebut ada secara fisik. Kondisi tersebut, menurutnya, berpengaruh pada stabilitas emosi, perilaku sosial, hingga potensi penularan pola hubungan antargenerasi.
“Kekosongan emosional pada masa kecil akan terbawa ketika anak tumbuh dewasa dan menjadi orang tua, sehingga pola yang sama bisa terulang kembali,” ucap Arung, Rabu (3/12/2025).
Baca juga: Kolaborasi BKKBN dan Media Wujud Komitmen Penurunan Stunting
| Baca juga: Suspek Campak Lebak Capai 322 Kasus |
Hasil awal PK25 menunjukkan bahwa angka fatherless nasional berada pada posisi 25,8 persen, sementara Banten berada sedikit lebih rendah di angka 24,6 persen. Kendati demikian, persentase itu dianggap masih tinggi karena berarti satu dari empat keluarga memiliki anak yang tumbuh tanpa kehadiran emosional ayah. Angka tertinggi tercatat di wilayah Papua Pegunungan dengan 50,2 persen, sedangkan Bali menjadi provinsi terendah dengan 15,1 persen.
Arung menjelaskan, fenomena fatherless lebih banyak ditemukan di wilayah pedesaan. Kondisi tersebut dipengaruhi pola ekonomi keluarga, di mana ayah bekerja di kota dan meninggalkan anak dalam jangka waktu panjang. Sementara di sisi lain, masyarakat masih memiliki persepsi bahwa pengasuhan adalah tugas ibu, sehingga figur ayah tidak dilibatkan secara aktif dalam perkembangan anak.
Baca juga: BKKBN Banten Siapkan Bonus Demografi untuk Indonesia Emas 2045
Untuk menekan angka fatherless, BKKBN meluncurkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mendorong ayah lebih terlibat dalam kehidupan anak, mulai dari mengantar sekolah hingga mendampingi belajar. Program ini juga diperkuat dengan edukasi melalui SatyaGatra di tingkat kecamatan sebagai ruang konsultasi keluarga. BKKBN menekankan pentingnya membangun budaya baru bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya peran ibu.
Pemerintah berharap keterlibatan ayah secara emosional dapat memperkuat ketahanan keluarga dan mencegah dampak sosial seperti perundungan, masalah perilaku, hingga penurunan kualitas hubungan anak dengan lingkungan. BKKBN mengajak masyarakat, khususnya para ayah di Banten, untuk lebih aktif memahami kebutuhan emosional anak dan menciptakan pola pengasuhan yang lebih setara serta sehat. (Muntibi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....