Waduk Karian Surut, Kampung Somang Lebak Muncul Lagi Usai Tenggelam

  • 05 Agt 2026 08:19 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Kemarau panjang menyebabkan permukaan air Waduk Karian surut drastis hingga 4–5 meter di Kabupaten Lebak, Banten.
  • Kampung Somang, permukiman yang tenggelam akibat proyek bendungan puluhan tahun lalu, kini muncul kembali ke permukaan beserta fondasi rumah dan sisa infrastruktur desa.
  • Warga yang dulunya direlokasi memanfaatkan kesempatan ini untuk datang dan mengunjungi bekas permukiman mereka guna merawat ingatan akan masa lalu.

RRI.CO.ID, Lebak - Kemarau panjang membuat air Waduk Karian di Kabupaten Lebak, Banten, surut drastis hingga 4–5 meter. Akibatnya, Kampung Somang di Kecamatan Sajira—permukiman warga yang tenggelam akibat proyek bendungan—kini muncul kembali ke permukaan.

Fondasi rumah, sisa jalan desa, hingga bekas pekarangan yang selama ini mengendap di dasar waduk mendadak tampak jelas. Fenomena ini tak disia-siakan oleh warga yang dulu direlokasi untuk datang dan merawat ingatan.

Salah seorang mantan warga, Amir mengaku, dadanya sesak saat berdiri di tanah yang dulu menjadi tempat tinggalnya. Kenangan masa kecil seketika berputar kembali di kepalanya.

"Sedih sekali melihat rumah yang dulu kami tempati sekarang muncul lagi. Banyak kenangan di sini, tetapi kami sudah tidak bisa kembali tinggal seperti dulu," tutur Amir sambil menatap sisa-sisa bangunan, Selasa, 4 Agustus 2026.

"Sumpah, rasanya campur aduk. Biarpun kami sudah pindah ke tempat relokasi, ikatan sama tanah kelahiran ini tak pernah hilang begitu saja," ucap Amir.

Namun, di balik suasana haru nostalgia tersebut, kemarau yang berjalan hampir tiga bulan ini menyimpan duka lain bagi warga di lingkar waduk. Sumber air bersih mengering, membuat warga terpaksa memanfaatkan air waduk untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Seorang warga sekitar, Murni, menyebut keterbatasan air membuat mereka tak punya banyak opsi. Untuk konsumsi, Murni dan tetangganya harus mengangkut air bersih dari kampung sebelah yang berjarak hingga tiga kilometer.

"Sejak kemarau kami memakai air dari Waduk Karian untuk mandi dan mencuci karena sumber air di kampung sudah kering. Tapi kalau buat makan dan minum, air waduk ini tidak berani kami pakai. Takut sakit perut," kata Murni.

"Kalau untuk memasak dan minum kami harus mengambil air bersih ke kampung lain, jaraknya sekitar tiga kilometer. Cukup melelahkan, tetapi memang tidak ada pilihan. Sudah tiga bulan begini, tapi bantuan air bersih dari pemkab belum ada yang masuk sama sekali. Kami cuma bisa berharap ada tangki air yang dikirim ke sini," keluhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....