Trust Issue Bukan Sifat Bawaan, Tetapi Pengalaman
- 26 Jul 2026 14:08 WIB
- Banten
Poin Utama
- Trust issue adalah kesulitan memberikan kepercayaan kepada orang lain yang berakar dari pengalaman menyakitkan di masa lalu, bukan sekadar sifat bawaan atau sikap berlebihan.
- Psikolog Gumilar Wulan Utami menjelaskan bahwa rasa curiga merupakan hal yang wajar selama tidak mengendalikan cara berpikir, perasaan, dan hubungan sosial seseorang.
- Trauma dalam hubungan sosial sejak masa kecil umumnya menjadi akar penyebab trust issue yang sulit untuk diatasi tanpa pemahaman mendalam tentang sumbernya.
RRI.CO.ID, Serang - Trust issue atau kesulitan mempercayai orang lain kerap dianggap sebagai sikap yang berlebihan atau sifat bawaan seseorang. Padahal, kondisi tersebut umumnya berakar dari pengalaman menyakitkan di masa lalu sejak masa kecil akibat pengalaman buruk dalam hubungan sosial.
Seorang Psikolog, Gumilar Wulan Utami, mengatakan trust issue merupakan kesulitan memberikan kepercayaan kepada orang lain akibat ketakutan atau luka masa lalu yang memicu kecurigaan berlebihan. “Rasa curiga sebenarnya merupakan hal yang wajar, selama tidak sampai mengendalikan cara berpikir, merasakan, dan menjalin hubungan dengan orang lain,” ujarnya, Sabtu, 25 Juli 2026.
Gumilar menjelaskan, munculnya trust issue dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah pengalaman masa kecil, seperti orang tua yang tidak konsisten atau sering berbohong kepada anak. Selain itu, pengalaman dibohongi teman, menjadi korban perundungan, pengkhianatan dalam hubungan, hingga peristiwa traumatis lainnya juga dapat membentuk keyakinan negatif bahwa orang lain tidak dapat dipercaya.
Pengalaman negatif cenderung lebih kuat tersimpan di dalam otak karena berfungsi sebagai mekanisme perlindungan diri. Akibatnya, seseorang sering kali menganggap situasi baru sama dengan pengalaman buruk yang pernah dialami sebelumnya, meskipun kenyataannya belum tentu demikian.
“Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah berasumsi dan memandang hubungan baru dengan rasa takut akan kembali disakiti,” kata Gumilar.
| Baca juga: Salat Membentuk Akhlak dan Kepribadian |
Menurut Gumilar, trust issue juga dapat menciptakan siklus yang terus berulang. Ketika seseorang pernah dikhianati, ia akan membangun keyakinan negatif, kemudian bersikap curiga terhadap orang baru, memilih menjauh, hingga akhirnya hubungan yang sebenarnya berpotensi baik justru berakhir buruk.
"Masalah trust issue adalah kita terjebak sama pikiran sendiri yang sebenarnya kadang-kadang tidak terbukti, tapi kita punya asumsi. Yang harus dikurangi itu asumsi-asumsi akan sesuatu. Kalau muncul asumsi, harus dibuktikan," ucapnya.
Lebih lanjut, Gumilar mengingatkan bahwa trust issue bukan merupakan diagnosis gangguan mental, tetapi kondisi yang dapat diperbaiki secara bertahap. Ia mengajak masyarakat untuk membedakan antara kehati-hatian yang sehat dengan kecurigaan berlebihan, membangun komunikasi yang terbuka, menahan asumsi tanpa bukti, serta tidak ragu mencari bantuan profesional apabila rasa curiga telah mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....