BBPOM Serang Kawal Keamanan Makan Bergizi Gratis

  • 02 Jul 2026 14:24 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Serang memperketat supervisi proteksi pangan guna mengawal implementasi program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG) dari risiko kontaminasi zat berbahaya. Langkah preventif ini dioptimalkan melalui pemberian bimbingan teknis berkala kepada para pengelola dapur produksi di tingkat dasar guna memastikan standardisasi mutu sajian.

Kepala BBPOM di Serang, Fauzi Ferdiansyah, mengonfirmasi otoritasnya memberikan dukungan penuh dalam wujud pelatihan pengelolaan pangan yang baik bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyedia gizi lokal. Pemantauan ketat pada sektor hulu ini dinilai Fauzi krusial dilakukan demi memitigasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan hidangan massal yang kerap kali menyasar segmen anak sekolah.

"Anggaran kita kan sebenarnya untuk panganan yang diolah terkemas ya, namun sebenarnya kita support pelatihan ke pengelolaan lapangannya, kita kasih bimbingan teknis pelatihan pengelolaan panganan yang baik. Kemudian nanti kalau misalnya ada beberapa kejadian KLB keracunan panganan, kita turun investigasi, kita cek di sarana produksinya," kata Fauzi Ferdiansyah, Kamis 2 Juli 2026.

Walau pengawasan harian lapangan secara regulasi formal bertumpu pada otoritas dinas kesehatan daerah. Kendati demikian, menurut Fauzi BBPOM mengambil peran strategis dalam investigasi laboratorium sampel makanan apabila ditemukan indikasi kedaruratan sanitasi.

Ia menyebut berdasarkan hasil uji klinis pada beberapa kasus gangguan pencernaan massal, membuktikan cemaran bakteri mikrobiologi menjadi penyebab utama kerusakan mutu masakan. Kelalaian dalam menjaga kebersihan dikatakannya membuat makanan cepat mengalami pertumbuhan koloni bakteri jahat.

BBPOM mencatat rantai pasok makanan siap saji sangat rentan terpapar spora patogen jika fasilitas sirkulasi udara dapur kurang memenuhi standar. Disiplin sterilisasi wadah serta pemisahan bahan baku mentah disebut Fauzi menjadi instrumen wajib yang harus dipatuhi para juru masak.

"Penyebabnya adalah dari higiene sanitasi ya, tentunya dari kebersihan, dari orangnya, dari pangannya, dari sarana produksinya. Beberapa sumber keracunan yang muncul itu memang mikrobiologi, jadi bakteri ya dari Staphylococcus aureus ada, ada yang Bacillus ada gitu, nah bakteri-bakteri itu yang muncul," ujarnya.

Adapun hasil rekomendasi taktis investigasi lapangan nantinya akan langsung diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bahan evaluasi perbaikan sistematis. Sinergi lintas sektoral ini diposisikan Fauzi sebagai pilar perlindungan utama dalam menyukseskan investasi SDM jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....