Bukan Nilai Akademik, Anak Miskin Diprioritaskan Jadi Peserta Sekolah Rakyat

  • 23 Mei 2026 16:26 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pandeglang menegaskan sistem penjaringan siswa pada Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Pandeglang murni menggunakan parameter derajat kesejahteraan keluarga. Kebijakan khusus ini sengaja mengesampingkan seleksi nilai akademik atau tes tertulis sebagai bentuk afirmasi negara terhadap pemulihan hak pendidikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.

Kepala Dinsos Kabupaten Pandeglang, Wawan Setiawan menyatakan, indikator utama kelulusan calon peserta didik nantinya dinilai berdasarkan posisi desil kemiskinan pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Menurutnya anak yang berhak mendapatkan fasilitas sekolah asrama gratis ini wajib berada pada posisi desil satu atau maksimal desil dua.

"Di sini tidak ada seleksi akademik, yang ada seleksi tingkat kesejahteraan. Calon siswa itu harus ada di desil satu maksimal di desil dua miskin ekstrem dan miskin," kata Wawan Setiawan, Jumat 22 Mei 2026.

Guna menjaga akuntabilitas dan ketepatan sasaran, jajaran dinas menginstruksikan tim pendamping sosial untuk melakukan penjangkauan aktif langsung ke tiap desa. Petugas di lapangan dikatakan Wawan akan mencocokkan data By Name By Address (BNBA) yang diterima dari pusat dengan fakta kondisi riil rumah tangga calon siswa.

Langkah peniadaan standardisasi nilai rapor ini dinilainya agar esensi pendirian Sekolah Rakyat tetap berjalan lurus pada jalur pengentasan kemiskinan struktural. Melalui skema asrama, anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses sekolah reguler akibat kendala biaya akan langsung diakomodasi dan ditanggung penuh seluruh biaya hidupnya oleh negara.

Wawan mengatakan, pemenuhan proses verifikasi administrasi dan kelayakan lapangan ini ditargetkan rampung sebelum memasuki jadwal resmi masa penerimaan siswa baru pada tahun ajaran mendatang. Langkah pengetatan data ini disebutnya krusial dilakukan mengingat keterbatasan kuota operasional awal yang saat ini baru tersedia sebanyak sembilan kelas.

"Proses penjangkauan siswa ini menggunakan data BNBA yang sudah kami terima, kami tinggal lagi berproses untuk verifikasi layak atau tidaknya di lapangan," ucap Wawan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....