Masa Pensiun Berubah Jadi Pengabdian di Dapur MBG

  • 01 Mar 2026 15:52 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Ketika sebagian warga masih terlelap sejak tengah malam, puluhan relawan sudah berdiri di balik meja stainless, menakar beras, memotong sayur, dan menyiapkan lauk dalam jumlah ribuan porsi. Dari ruang seluas sekitar 600 meter persegi inilah setiap pagi ratusan kotak makan bergerak ke sekolah-sekolah di sekitar Banjarsari, membawa menu bergizi bagi para siswa.

Di balik dapur besar tersebut ada sosok Sri Hartini, mitra MBG Banjarsari 1, Cipocok Jaya, Kota Serang. Perempuan yang akrab disapa Ibu Sri itu memulai langkahnya pada 2024, saat program Makan Bergizi Gratis tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024. Saat itu ia tengah bersiap memasuki masa purna bakti.

Alih-alih menikmati waktu luang, ia memilih mencari kegiatan yang memberi manfaat lebih luas. Ia mengaku berangkat dari perannya sebagai Ketua Pelita Prabu di Kabupaten Serang. Dari sana, ia bersama para relawan mulai bergerak.

“Kami punya relawan, termasuk beberapa anggota. Total ada 26 anggota. Dari situlah kami berdiri bersama untuk mensosialisasikan program makan bergizi gratis se-Kabupaten Serang,” ujarnya, Minggu, 1 Maret 2026.

Mereka kemudian bersepakat membangun dapur percontohan. Upaya itu membuahkan hasil. Pada 17 Februari 2025, dapur tersebut mulai beroperasi dan menjadi dapur pertama di Kota Serang yang mengirim makanan ke para penerima manfaat.

Sejak awal, Ibu Sri berkeliling kecamatan memasang spanduk dan menyampaikan informasi terkait program tersebut. Seluruh kegiatan awal dilakukan menggunakan dana pribadi. Rasa penasarannya bahkan membawanya ke Jakarta untuk memastikan kesiapan program nasional itu.

Keyakinannya terjawab saat dapur resmi berjalan pada 17 Februari 2025. Hari pertama distribusi menjangkau 3.011 penerima manfaat. Jumlah itu terus bertambah menjadi 3.600, bahkan sempat menyentuh 3.954 penerima, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, serta balita di Posyandu.

Kini, dapur tersebut melibatkan 50 orang, terdiri atas 47 relawan, satu KSPI, satu tenaga akuntansi, dan satu ahli gizi. Menu disusun dengan siklus enam hingga dua belas hari, menyesuaikan kebutuhan gizi anak.

Di bagian logistik, Wilnanda selaku Ketua Logistik SPPG Banjarsari 1 menjadi penghubung antara dapur dan pemasok bahan baku. Ia bergabung sejak hari pertama dapur dibuka.

“Bu Sri Hartini membuka dapur dan saya diajak bergabung di UMKM ini. Sangat membantu. UMKM roti yang tadinya produksinya sedikit, sekarang dengan adanya MBG produksinya jadi makin banyak,” katanya.

Ia juga melihat dampak pada pedagang pasar. Permintaan bahan pangan meningkat seiring berjalannya program. Bahan baku diperoleh dari pemasok Citra Pangan yang bekerja sama di kawasan BMS Kota Serang.

Di sisi lain, Kepala SPPG Banjarsari 1, Iwan Setiawan, memberi perhatian khusus pada higienitas. Seluruh relawan telah mengikuti pelatihan penjamah makanan dari BGN dan BLK. Proses memasak dimulai pukul 00.00 hingga pukul 04.00 WIB, dilanjutkan pemorsian dan pengemasan. Pada pukul 07.00 WIB, kendaraan distribusi berangkat menuju sekolah.

Jam kerja malam menjadi tantangan tersendiri. Menjaga stamina tim menjadi perhatian utama.

“Teman-teman relawan sudah dilatih penjamah makanan, baik dari BGN maupun BLK. Saat masuk ke area masak wajib menggunakan APD. Terutama tim shift malam, metabolisme dan stamina harus dijaga,” ujar Iwan.

Di Dapur Banjarsari 1, masa pensiun berubah menjadi pengabdian baru. Dari tengah malam hingga pagi, ribuan porsi makanan bergerak setiap hari, membawa harapan dalam setiap kotak makan yang dibagikan.

Rekomendasi Berita