Masjid Jadi Ruang Kelas Saat Banjir Melanda di Batola

  • 22 Jan 2026 22:36 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Banjir masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, dan berdampak pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Salah satu sekolah yang terdampak adalah MI Al Jihad Semanda di Desa Semangat Dalam, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala.

Habibah, salah satu guru di sekolat tersebut, menceritakan banjir yang menggenangi lingkungan sekolah telah terjadi sejak awal Januari. Kondisi tersebut bertepatan dengan dimulainya semester baru, sehingga pihak sekolah sempat memberlakukan pembelajaran secara daring demi keselamatan siswa.

“Awal mula air pasang itu di awal Januari, anak-anak mulai masuk juga awal Januari,” ucapnya. “Jadi kami memutuskan untuk keselamatan anak-anak, semuanya kami putuskan untuk BDR (Belajar Dari Rumah).” Ucap Habibah, Rabu, 21 Januari 206.

Setelah hampir dua pekan berlangsung, pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Meski halaman sekolah masih tergenang banjir, proses belajar mengajar tetap dilakukan dengan memanfaatkan masjid yang berada di sekitar sekolah.

“Dari hari Senin kemarin, kami sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka cuma tidak di sekolah,” ujarnya. “Di lingkungan masjid anak-anak belajarnya, ada kelas 1A, kelas 2, sama kelas 3, dan satu kelas tetap belajar di sekolah.”

Di tengah keterbatasan tersebut, semangat belajar siswa tetap mendapat dukungan penuh dari para orang tua. Salah satunya Dila, orang tua siswa, yang mengaku tetap antusias mengantarkan anaknya ke sekolah meski harus melewati genangan banjir.Mm“Jadi mulai hari Senin kemarin sudah masuk kembali, belajarnya alhamdulillah baik karena langsung dengan ibu guru,” katanya. “Sesuai jadwal, jadi anak-anak belajarnya lebih fokus, jadi sangat mendukung untuk tatap muka.”

Dila juga mengungkapkan pengalaman anaknya saat menjalani pembelajaran daring sebelumnya. Menurutnya, metode belajar dari rumah dirasa kurang efektif karena sulitnya menjaga fokus anak tanpa pengawasan langsung dari guru.

“Kemarin pas belajarnya online itu sebenarnya baik saja, cuma karena anak dan orang tua lebih dekat,” ujarnya. “Jadi belajarnya semaunya, untuk jadwal belajarnya tidak ada yang mengawasi dengan ketat.”

Hingga kini, banjir masih menyisakan genangan yang cukup mengganggu aktivitas sekolah dan kenyamanan proses belajar mengajar. Pihak sekolah berharap adanya perhatian serta penanganan dari pemerintah daerah agar kondisi segera kembali normal, sehingga kegiatan pendidikan dapat berjalan dengan aman, lancar, dan tanpa hambatan.

Rekomendasi Berita