Ketika Kawasan Kumuh Menghirup Harapan
- 30 Nov 2025 21:51 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Kesan kumuh, rumah berdempetan, tumpukan kayu bekas di setiap sudut, sampah berserakan, hingga bau tak sedap dari genangan air menjadi pemandangan rutin ketika menyusuri kawasan Gang Baru, Jalan Veteran, Banjarmasin. Gang yang hanya selebar dua motor ini memperlihatkan betapa padatnya permukiman di kawasan tersebut.
Bagi warga seperti Lilah, kondisi itu adalah realita yang harus ia hadapi setiap hari. Terbiasa hidup berdampingan dengan lingkungan yang tidak nyaman adalah satu-satunya cara untuk terus bertahan.
“Dari dulu sudah seperti ini, sepi karena kumuh, rimbun, banyak sampah juga,” ujar Lilah.

Lilah, warga Gang Baru saat ditemui di rumahnya oleh tim RRI Banjarmasin.
Hal serupa juga dirasakan Mutiara, perempuan yang tinggal di gang yang sama. Baginya, padatnya permukiman dan lingkungan yang tidak terawat membuat Gang Baru terasa sesak.
“Sebagian warga kita kan masih kurang memahami artinya kebersihan, penghijauan, dan pentingnya menjaga lingkungan, jadi apa-apa harus diingatkan” kata perempuan yang kerap disapa "Bu RT" itu.
Sebenarnya, Gang Baru telah memiliki Dasawisma Pelangi Baru, tetapi kehadirannya belum berjalan optimal sehingga belum mampu membawa perubahan yang berarti. Dasawisma Pelangi Baru adalah nama sebuah kelompok binaan Dasawisma di Kelurahan Kuripan, Kota Banjarmasin.
Meski begitu, Mutiara bersama suaminya terus berupaya menerapkan hidup sehat. Salah satunya dengan menanam tanaman di sekitar rumah agar terlihat asri.
“Karena saya dan bapak senang dengan tanaman, jadi kita mulai dengan penataan sekitar rumah sedikit demi sedikit," ucapnya.
/odsfrjy0uan3km2.jpeg)
Mutiara, salah satu penggerak Dasawisma Pelangi Baru saat memperlihatkan kondisi kebun hidroponik.
Hobinya terus berkembang. Dari awalnya tanaman hias biasa, mulai merambah ke tanaman sayuran.
"Kita mulai menanam kangkung, terus kita mulai gunakan juga polybag untuk menanam cabai, terong, atau tomat. Iseng-iseng di sela-sela kesibukan lah,” ujarnya menjelaskan.
Bermula dari upaya kecil yang lahir dari keresahan itulah justru menarik perhatian Bank Rakyat Indonesia (BRI). Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRInita atau BRI Bertani di Kota, harapan kecil tentang perubahan pun tumbuh.
BRI kemudian memberikan bantuan agar kebiasaan baik ini dapat terus dikembangkan. Salah satu program yang ditawarkan adalah menciptakan ekosistem Urban Farming.
“Program ini merupakan komitmen nyata dari BRI untuk pelestarian lingkungan yang memanfaatkan lahan sempit di wilayah padat penduduk dengan menciptakan ekosistem Urban Farming yang berkelanjutan,” kata Irwan Apriantoro, Regional Business Support Head BRI RO Banjarmasin.

Irwan Apriantoro, Regional Business Support Head BRI RO Banjarmasin saat menjelaskan tentang program BRInita.
Dalam program tersebut, BRI menyediakan perlengkapan untuk bercocok tanam secara hidroponik agar masyarakat dapat memanfaatkan lahan sempit menjadi ruang hijau. Pendampingan dan pengawasan turut diberikan agar warga tidak hanya memperoleh fasilitas, tetapi juga pengetahuan untuk mengelolanya.
“Kita diberikan rockwool, pisau potong, netpot, wadah pembibitan, lalu kita diajari cara bikin hidroponik mulai dari pembibitan hingga panen,” ujar Mutiara tentang bantuan pertama dari BRI.
Dengan memanfaatkan lahan di samping rumahnya, Mutiara mulai mengubah sepetak lahan kosong yang terbengkalai itu menjadi ruang hidup baru. Kebun hidroponik dari program BRInita itu mulai membawa perubahan perlahan melalui lahan kecil yang lebih tertata dan produktif.
Penghijauan yang terjadi pun mulai menarik perhatian warga yang sebelumnya terbiasa melihat kondisi kumuh tak terawat. Kini gang yang semula terasa sesak, mulai bisa bernapas lebih lega.
Kondisi ini dirasakan Ai Ming, salah seorang warga sekitar. Ia kerap berkumpul bersama warga di area dasawisma yang semakin ramai dan menjadi tempat nongkrong baru.
"Saya sering ikut ngumpul di sini. Ibu-ibu, anak-anak semuanya di sini. Kita sering masak-masak juga, tempatnya sejuk, nyaman, pokoknya rame lah," ucap perempuan yang sudah 25 tahun tinggal di kawasan padat penduduk itu.

Ai Ming saat ditemui oleh tim RRI Banjarmasin di sekitar rumahnya.
Sementara Lilah yang menjadi saksi kumuhnya gang baru turut merasakan dampak perubahannya. Kini ia dapat menikmati sayuran segar langsung dari kebun hidroponik dasawisma.
“Kalau harus pergi ke pasar itu jauh, apalagi misalnya saya lagi buru-buru mau masak, gak ada cabai, gak ada sayur. Sekarang enak tinggal petik aja dari kebun ini,” kata Lilah dengan wajah berbinar.

Kondisi kebun hidroponik yang kini semakin subur.
Melihat perkembangan positif yang terjadi di wilayahnya, Lurah Kuripan, Yoyok Hardiyanto, mengaku senang dengan aktivitas baru warga lewat kebun hidroponik itu. Ia menerangkan sejak 2021, pihaknya turut membantu melalui penyediaan pupuk dan bibit demi memastikan kebun kecil dari bantuan BRI ini dapat terus berkembang.
“Jauh sekali perubahannya. Kawasan yang dulu kumuh kini terlihat lebih asri. Apalagi bantuan yang diberikan juga cukup besar. Tidak kalah pentingnya BRI selalu melakukan monitoring ke tempat ini. Itu yang mungkin menjadi alasan kenapa program ini bisa berkelanjutan,” ujarnya menjelaskan.

Yoyok Hardiyanto, Lurah Kuripan saat mengunjungi Dasawisma Pelangi Baru bersama tim RRI Banjarmasin.
Gang yang dulunya identik dengan kekumuhan kini memiliki ruang hijau yang memberi napas segar bagi warganya. Kehadirannya tidak hanya memperbaiki lingkungan fisik, tetapi juga mempererat hubungan sosial, bahkan dampak dari segi ekonomi pun mulai dirasakan.
/uiavg9tvebi3mei.jpeg)
Penggiat lingkungan, Hamdi, saat dimintai pendapatnya tentang Dasawisma Pelangi Baru.
Perubahan ini juga mendapat perhatian dari Hamdi, seorang penggiat lingkungan yang mengikuti perkembangan Urban Farming di Banjarmasin. Menurutnya, kebun hidroponik Dasawisma Pelangi Baru menjadi bukti bahwa kota padat pun masih dapat menghadirkan ruang hijau yang produktif.
“Gerakan Urban Farming cocok sekali untuk daerah padat seperti kota Banjarmasin ini. Dari yang tadinya kumuh kemudian jadi lebih baik, tanaman-tanaman ini memberikan oksigen sehingga lingkungan terasa lebih nyaman,” katanya.
Bermula dari gerakan sederhana tentang pelestarian lingkungan, BRInita berhasil merubah wajah kampung yang terkenal kumuh menjadi lingkungan yang lebih sehat bagi warganya.