Pentingnya Teologi Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
- 12 Mar 2026 17:55 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Sebagian masyarakat menilai ajaran agama sering disusun oleh orang-orang yang tidak mengalami disabilitas atau memiliki literasi terbatas tentang isu tersebut. Kondisi ini membuat praktik keagamaan terkadang belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas.
Hal ini disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Helma Nuraini, S.Psi., M.Pd., pada acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 7 Maret 2026. Ia menilai pemahaman teologi disabilitas penting untuk mendorong praktik keagamaan yang lebih inklusif bagi semua kalangan.
"Padahal sebenarnya bisa diinterpretasikan bahwa seseorang tetap dapat beribadah dengan duduk tanpa harus berdiri,” katanya. “Karena Tuhan juga mengetahui keterbatasan hamba-Nya.”
Helma menambahkan, dalam ajaran Islam juga terdapat kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam menjalankan ibadah. Misalnya pada kondisi medis seperti kolostomi, seseorang tetap dapat melaksanakan salat meskipun memiliki keterbatasan tertentu.
"Teologi disabilitas pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan praktik keagamaan yang lebih inklusif, memudahkan, dan menyamaratakan kedudukan semua manusia," ujarnya.