Perspektif Agama dan Budaya dalam Memandang Disabilitas

  • 12 Mar 2026 06:59 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Perspektif terhadap disabilitas kerap dipandang dari berbagai sudut, seperti pendekatan medis, sosial, hingga agama. Pandangan tersebut sering menjadi dasar awal masyarakat dalam memahami kondisi disabilitas.

Dalam praktiknya, pandangan keagamaan mengenai disabilitas kerap tumpang tindih dengan budaya atau adat lokal. Hal ini memengaruhi cara masyarakat memandang seseorang yang terlahir dengan disabilitas.

Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Helma Nuraini, S.Psi., M.Pd., pada acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 7 Maret 2026.

"Pada dasarnya agama mengajarkan kasih sayang dan tidak memandang seseorang dari sisi fisik semata," ujarnya.

Helma menambahkan, ajaran agama atau teologi, dalam Islam dikenal dengan konsep ketauhidan, dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap disabilitas. Menurutnya, pemahaman tersebut berpotensi mengubah paradigma masyarakat agar lebih inklusif.

"Tetapi ini lebih kepada bagaimana interpretasi dan paradigma masyarakat, karena hingga saat ini masih ada yang memandang disabilitas secara negatif," ujarnya. "Contohnya ketika artis Dewi Yull melahirkan anak dengan disabilitas, muncul anggapan di masyarakat bahwa orang tuanya pernah melakukan dosa tertentu."

Rekomendasi Berita