Diantara Ramadan dan Cap Go Meh, Muslimah Tionghoa Jaga Silaturahmi
- 05 Mar 2026 08:31 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Di tengah riuhnya atraksi barongsai pada malam Cap Go Meh di Klenteng Soetji Nurani, sosok Siti Maisarah tampak sibuk membantu pelayanan tamu. Ia adalah seorang Muslimah Tionghoa yang rutin menjadi relawan setiap kali klenteng menggelar perayaan besar.
Meski telah memeluk Islam sejak 30 tahun yang lalu, ikatan emosional Siti dengan lingkungan klenteng tidak pernah hilanh. Tempat ini menyimpan kenangan mendalam karena dahulu mendiang sang ayah merupakan penganut Konghucu yang aktif beribadah di sana.
"Dulu Papah ibadah di sini sebelum kami menjadi Muslim, makanya Sekarang saya tetap ke sini untuk silaturahmi," ujar Siti pada malam Cap Go Meh, Selasa, 3 Maret 2026.
Siti menegaskan kehadirannya murni untuk menjaga hubungan baik dengan kerabat dan teman-temannya di momen perayaan penutup tahun baru lunar ini. Ia memilih fokus membantu salah satunya dengan melayani sajian Lontong Cap Go Meh yang menjadi hidangan khas setiap tahunnya.
"Saya senang bantu-bantu karena banyak kegiatan dan teman-teman kan ada di sini," katanya sembari menyusun mangkuk-mangkuk lontong.
Bagi Siti, membantu sesama di rumah ibadah lama sang ayah adalah wujud penghormatan terhadap sejarah keluarganya. Ia merasa senang bisa tetap berkontribusi bagi komunitas lamanya meski kini telah memiliki jalan keyakinan yang berbeda.
Momen Cap Go Meh yang tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan pun ia jadikan sarana untuk melepas rindu dengan kerabat. Kehadirannya menjadi bukti sederhana bahwa silaturahmi tetap bisa terjaga erat tanpa harus memandang perbedaan.