Integrasi Net Gain Biodiversity, Kunci Pengembangan Blok Masela

  • 19 Feb 2026 14:02 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pengembangan Blok Masela melalui proyek LNG Abadi kembali menjadi sorotan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional yang menopang Ketahanan Energi Indonesia. Konsorsium yang dipimpin Inpex Corporation bersama PT Pertamina (Persero) menargetkan proyek ini sebagai tulang punggung pasokan gas jangka panjang di Kawasan Timur Indonesia.

Namun di balik nilai strategisnya, lokasi operasi di Perairan Arafura–Maluku merupakan salah satu wilayah dengan biodiversitas laut tertinggi di Indonesia. Kawasan ini dikenal memiliki terumbu karang tropis, stok ikan demersal dan pelagis bernilai ekonomi tinggi, dan jalur migrasi mamalia laut yang terhubung secara ekologis dengan ekosistem regional Indo-Pasifik.

Dengan demikian tantangan kebijakan muncul: bagaimana memastikan proyek energi berskala besar tidak meninggalkan kerugian ekologis secara permanen?

Dari Mitigasi Menuju Net Gain Biodiversity

Pendekatan klasik berbasis mitigasi dampak dalam dokumen AMDAL umumnya bertujuan meminimalkan kerusakan. Namun berbagai studi internasional menunjukkan bahwa pendekatan ini kerap menyisakan residual ecological loss yang sulit dipulihkan.

Konsep Net Gain Biodiversity (NGB), yang berkembang dari pendekatan No Net Loss dalam kebijakan global, menawarkan standar yang lebih progresif: kondisi biodiversitas paska proyek harus lebih baik dibandingkan kondisi awal (baseline).

Secara konseptual: Bpost – Bbaseline > 0

Indikator B dapat mencakup luas habitat, kelimpahan spesies, indeks keanekaragaman, hingga fungsi ekosistem.

Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan transisi energi global sebagaimana ditegaskan dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC AR6), yang menempatkan gas alam sebagai bahan bakar transisi (transition fuel), namun dengan syarat pengendalian emisi metana secara ketat.

Isu Strategis: Energi, Emisi, dan Risiko Ekologi.

1. Risiko Emisi dan Carbon Lock-in

Gas alam memiliki intensitas karbon lebih rendah dibanding batubara. Namun kebocoran metana dalam rantai pasok LNG dapat menggerus manfaat tersebut. Metana memiliki potensi pemanasan global 28–84 kali lebih kuat dibanding CO₂ dalam berbagai horizon waktu.

Tanpa sistem deteksi kebocoran secara langsung (real-time) dan kebijakan zero routine flaring, proyek berisiko menguatkant carbon lock-in dalam bentuk ketergantungan jangka panjang pada infrastruktur fosil yang menghambat transisi energi bersih.

2. Transportasi Laut dan Kebisingan Bawah Air

Peningkatan lalu lintas kapal LNG di Perairan Arafura berpotensi meningkatkan kebisingan bawah laut yang mengganggu komunikasi dan migrasi mamalia laut. Kajian global menunjukkan bahwa pembatasan kecepatan kapal dan penetapan koridor pelayaran tetap dapat menurunkan risiko tabrakan dan gangguan gelombang akustik secara signifikan.

3. Limbah Pengeboran dan Produced Water.

Limbah pengeboran dan produced water dapat mengandung hidrokarbon serta logam berat yang berdampak kronis pada plankton dan organisme bentik. Praktik terbaik industri modern mendorong pendekatan zero discharge dan reinjeksi bawah tanah sebagai standar minimal.

Rekomendasi Kebijakan: Menjadikan Masela Model Energi Rendah Dampak

Agar Blok Masela menjadi model integrasi energi dan konservasi, sejumlah langkah strategis perlu diadopsi secara tegas dalam kerangka regulasi dan pembiayaan:

4. Integrasi NGB dalam AMDAL dan Desain Teknis.

Baseline biodiversitas berbasis eDNA dan pemetaan bentik resolusi tinggi.

Target peningkatan minimal 10% indikator ekologis regional dalam 10–15 tahun.

Monitoring independen jangka panjang berbasis sains.

5. Offset Ekologis Permanen dan Pembiayaan Berkelanjutan.

Pembentukan kawasan konservasi laut baru di sekitar wilayah operasi.

Restorasi mangrove dan lamun sebagai penyerap karbon biru. Pembentukan trust fund konservasi jangka panjang. Model pembiayaan inovatif seperti Coral Bond Project yang dikembangkan World Bank di Kawasan Konservasi Nasional dan Daerah Raja Ampat dan Kawasan Konservasi Alor dapat menjadi referensi integrasi instrumen keuangan dan konservasi.

6. Pengendalian Emisi dan Integrasi Carbon Capture and Storage (CCS)

Sistem deteksi metana real-time.

Kebijakan zero routine flaring.

Kajian kelayakan carbon capture and storage (CCS) untuk menekan emisi proses liquefaksi.

7. Tata Kelola Transportasi Laut dan Transparansi

Penetapan marine traffic corridor tetap.

Pembatasan kecepatan kapal di zona sensitif. Monitoring Automatic Identification System (AIS) yang transparan dan dapat diakses publik.

8. Audit dan Pelaporan Berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) Audit lingkungan independen tahunan.

Pelaporan publik berbasis standar Environmental, Social, and Governance (ESG).

Integrasi indikator biodiversitas dalam metrik kinerja perusahaan.

Implikasi Strategis Nasional

Integrasi Net Gain Biodiversity bukan sekadar isu lingkungan, melainkan strategi geopolitik dan ekonomi.

Pendekatan ini dapat:

Mengurangi potensi konflik sosial di wilayah pesisir.

Meningkatkan legitimasi proyek di mata investor global.

Memperkuat akses pembiayaan hijau dan obligasi berkelanjutan.

Menjadikan Indonesia pelopor integrasi keamanan energi dan konservasi laut tropis.

Sebaliknya, tanpa NGB, proyek berisiko menghasilkan kerugian biodiversitas jangka panjang yang tidak sepenuhnya dapat dipulihkan dan menjadi sebuah biaya ekologis yang pada akhirnya menjadi beban ekonomi Indonesia.

Momentum Kepemimpinan Kebijakan

Blok Masela adalah keputusan strategis energi nasional. Namun masa depannya tidak hanya ditentukan oleh volume produksi LNG, melainkan oleh kualitas tata kelola lingkungan yang menyertainya.

Dengan mengintegrasikan standar Net Gain Biodiversity berbasis riset, inovasi teknologi, dan pembiayaan berkelanjutan, Indonesia dapat menunjukkan bahwa transisi energi dan konservasi laut bukanlah pilihan yang saling meniadakan, melainkan agenda yang dapat berjalan selaras.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Fadli Syamsudin, M.Sc.

Kepala Pusat Studi Iklim dan Pengelolaan Kawasan Maritim, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Padjadjaran.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita