Pesta Budaya, Sakura Cakak Buah

  • 28 Mar 2025 04:21 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung: Ramadan akan berakhir, umat Muslim akan segera merayakan kemenangannya tepat pada 1 Syawal. Namun, ada hal unik yang bisa kita saksikan di Kabupaten Lampung Barat dan Provinsi Lampung dalam perayaan kemenangan tersebut, yakni Sekura Cakak Buah.

Dilansir dari laman kebudayaan.kemendikbud.go.id, Pesta Budaya Sekura adalah pesta budaya tradisional yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idulfitri, biasanya mulai dari 1 Syawal hingga 6 atau 7 Syawal, setiap hari bergantian dari pekon ke pekon lainnya. Secara umum, kegiatan ini hampir sama dengan pentas teater luar ruang dengan masyarakat sebagai pelakunya. Pesta budaya ini identik dengan kemenangan, kebebasan, dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi.

Sekura dalam kebudayaan ini berarti topeng atau penutup wajah, atau merubah penampilan yang menggambarkan berbagai sifat di muka bumi. Namun, dalam Pesta Sekura, penggambarannya lebih kepada suasana kegembiraan dan kebebasan berkreasi dalam kebersamaan secara berkelompok. Secara definisi, Pesta Budaya Sekura merupakan perayaan atau ungkapan kegembiraan masyarakat secara bersama-sama dengan bertopeng (menutup wajah) dan mengubah penampilan sedemikian rupa. Pesta ini bersifat menghibur serta bertujuan utama untuk bersilaturahmi, yang berpuncak pada panjat pinang secara berkelompok dengan sistem beguai jejama (gotong royong).

Sekura atau Sakukha berasal dari bahasa Lampung yang berarti penutup wajah, dengan bentuk topeng yang memiliki beragam karakter, seperti Sekura Betik atau Sekura Helau. Karakter ini menggambarkan seseorang dengan penampilan helau (indah). Biasanya, mereka mengenakan kacamata berlensa gelap, kain panjang yang menjuntai di pinggang, menyilang di dada, serta penutup kepala dari Selindang Miwang, kain khas Lampung Barat yang terbebat di kepala, ditambah Songkok Tapis Lampung. Karakter ini tidak diperkenankan ikut memanjat pinang sebab memiliki sifat yang bersih dan tampan bagaikan bangsawan.

Karakter berikutnya adalah Sekura Kamak, yang berarti kotor. Karakter ini memiliki ciri khas menggunakan topeng kayu atau bahan lainnya dengan bentuk yang buruk rupa, seperti memiliki gigi taring, rambut panjang dari ijuk atau tali rafia, serta melilitkan berbagai dahan tumbuhan di tubuh penggunanya.

Dalam perayaan ini, Sekura Kamak bertugas memanjat pohon pinang secara berkelompok dengan beguai jejama atau saling bekerja sama untuk mengambil hadiah yang tergantung di atas pohon pinang, yang telah disulap seperti toko. Cakak Buah hanya boleh dilakukan oleh Sekura Kamak karena mereka memiliki sifat yang suka berkotor-kotor terkena tanah atau oli di pohon pinang, sedangkan Sekura Betik dan Sekura Jahal hanya menonton di sekitar Cakak Buah.

Dalam pelaksanaan Pesta Budaya Sekura Cakak Buah, semua warga diharuskan menggunakan topeng, baik dengan karakter Sekura Kamak, Sekura Betik, maupun Sekura Jahal. Perbedaan utama dari panjat pinang pada umumnya adalah para pemanjat dalam Sekura Cakak Buah tetap menggunakan topeng Sekura Kamak hingga mencapai puncak tanpa memperlihatkan identitas mereka.

Budaya Sekura Cakak Buah ternyata tidak hanya ada di Lampung Barat, tetapi juga di Kabupaten Tanggamus. Selain menjadi ajang pesta rakyat, pelestarian tradisi, dan ajang silaturahmi, acara ini juga dapat menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, sehingga dapat mendorong pertumbuhan pariwisata serta perekonomian daerah.

Hal itu pun sejalan dengan rencana pengembangan sektor pariwisata Provinsi Lampung oleh Pemerintah Provinsi Lampung, yang bertujuan menjadikan Lampung sebagai Bumi Event dengan memperbanyak kegiatan kepariwisataan, baik dalam bentuk pelestarian tradisi maupun kegiatan pariwisata lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....