Kolumnis Dorong Akademisi Ubah Skripsi hingga Disertasi Jadi Buku Populer
- 05 Sep 2026 14:18 WIB
- Bandar Lampung
Kolumnis Dorong Akademisi Ubah Skripsi hingga Disertasi Jadi Buku Populer
BANDAR LAMPUNG — Komunitas Kolumnis mendorong akademisi mengembangkan kembali skripsi, tesis, dan disertasi menjadi karya populer agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik di perpustakaan.
Dorongan tersebut disampaikan dalam pelatihan bertajuk “Alih Bahasa Karya Ilmiah Menjadi Buku Populer” yang digelar secara daring melalui Google Meet, Sabtu (5/9/2026).
Pelatihan yang dimulai pukul 09.00 WIB itu diikuti peserta dari berbagai latar belakang, di antaranya guru SMA Negeri 12 Bandar Lampung, guru SMA Negeri 9 Bandar Lampung, dosen Jurusan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung, mahasiswa, dan praktisi.
Salah satu narasumber, Nenny Makmun, mengatakan karya ilmiah seharusnya tidak dipandang sebagai produk akhir dari sebuah penelitian. Menurutnya, skripsi, tesis, dan disertasi masih dapat dikembangkan menjadi buku populer ilmiah dengan mengubah cara penyampaian tanpa menghilangkan substansi pengetahuan di dalamnya.
“Ketika disertasi diubah menjadi buku populer ilmiah, pengetahuan di dalamnya bisa dinikmati orang awam. Dengan begitu, jangkauan dan dampaknya menjadi lebih besar,” ujar Nenny.
Nenny yang merupakan pengajar SD Inklusi, pengelola penerbitan Azkiya dan Sanggar Anak Rumah Hijau, serta penulis fiksi itu menilai pengemasan ulang karya ilmiah dapat memperpanjang usia sebuah penelitian sekaligus memperluas pengaruh penulis.
Menurut dia, penulis tidak perlu membawa seluruh struktur penelitian ke dalam buku populer. Bahasa akademik yang formal dan kaku dapat dibuat lebih cair, sementara pembahasan teknis seperti metodologi, data mentah, dan tinjauan pustaka dapat disederhanakan.
Sebaliknya, penulis perlu memperkuat konteks, ilustrasi, contoh, cerita, serta konsekuensi praktis dari hasil penelitian.
“Yang penting adalah so what. Pembaca perlu tahu apa makna dan manfaat dari pengetahuan yang kita sampaikan,” katanya.
Nenny mencontohkan disertasinya berjudul “Penguatan Literasi Nalar Kritis melalui Upaya Lembaga (Studi Kasus pada Komunitas Belajar Qoriyah Toyyibah Salatiga)” yang kemudian dikemas menjadi buku berjudul “Belajar yang Memerdekakan”.
“Usahakan membuat judul yang eye-catching dan menarik,” ujarnya.
Dosen FISIP Universitas Baturaja, Sumatera Selatan, Yahnu Wiguno Sanyoto, mengatakan hasil penelitian tidak selalu harus dikembangkan menjadi buku.
Menurutnya, data dan temuan dalam sebuah karya ilmiah dapat dipecah menjadi tulisan dengan fokus lebih spesifik, termasuk artikel jurnal maupun tulisan populer.
Yahnu menyebut tiga unsur penting yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan tulisan, yakni data, cerita, dan makna.
“Data memberikan informasi, cerita memberikan pemahaman, sementara makna memberikan arah tulisan kita mau dibawa ke mana,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, satu karya ilmiah dapat menghasilkan sejumlah tulisan dengan sudut pandang berbeda. Setiap tulisan juga dapat memiliki judul dan fokus yang lebih spesifik sehingga peluang untuk dipublikasikan semakin terbuka.
Sementara itu, jurnalis Lampung Post Setiaji Bintang Pamungkas menekankan pentingnya kemampuan akademisi menerjemahkan bahasa ilmiah ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Menurut Setiaji, buku populer yang bersumber dari penelitian harus dapat menjangkau pembaca dengan latar belakang pendidikan yang beragam.
Ia mengutip prinsip yang kerap dikaitkan dengan pendiri Kompas, Jakob Oetama, mengenai ukuran tulisan yang baik.
“Kalau tukang becak membaca tulisan itu kemudian menjadi paham, itu adalah tulisan yang bagus,” kata Setiaji.
Ia menilai prinsip tersebut relevan dalam mengubah karya ilmiah menjadi buku populer. Penulis tidak cukup hanya menyampaikan teori dan data, tetapi juga harus memastikan gagasan dapat dipahami dan dirasakan relevansinya oleh pembaca.
Selain memperluas audiens, karya populer juga dapat memperkuat positioning akademisi sebagai ahli sekaligus penulis yang memiliki perspektif tertentu.
“Ketika akademisi tidak hanya menghasilkan artikel ilmiah, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan dalam buku populer, positioning sebagai penulis dan pemikir di bidang tertentu akan semakin kuat,” ujarnya.
Setiaji juga mengingatkan bahwa perjalanan sebuah buku saat ini tidak berhenti di toko buku. Karya dapat dipublikasikan dalam bentuk buku fisik, buku digital, maupun melalui berbagai platform internet.
Karena itu, penulis perlu memahami cara agar karya dapat ditemukan pembaca di ruang digital, salah satunya melalui penerapan prinsip Search Engine Optimization (SEO).
Kemampuan menentukan judul yang menarik, memilih kata kunci, serta menyusun tulisan yang ramah mesin pencari dinilai menjadi keterampilan tambahan yang penting bagi penulis.
“Karya populer yang berasal dari penelitian nantinya bisa didistribusikan melalui buku fisik, buku digital, maupun website. Karena itu, penulis juga perlu memiliki kemampuan membuat karya yang SEO friendly,” jelasnya.
Founder Kolumnis.id, Acil, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya komunitas membuka ruang agar karya tulis dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Menurutnya, banyak tulisan memiliki gagasan dan pengetahuan penting, tetapi belum maksimal memberikan dampak karena hanya beredar di lingkungan akademik.
“Melalui event ini kita ingin memberikan ruang bagi seluruh karya tulis para peserta dan anggota Kolumnis untuk meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat di Provinsi Lampung maupun secara nasional,” ujar Acil.
Ia berharap peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknik menulis, tetapi juga mampu mengolah karya ilmiah yang dimiliki menjadi buku atau tulisan populer.
Dengan demikian, skripsi, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lainnya diharapkan tidak berhenti sebagai syarat kelulusan atau arsip akademik, melainkan berkembang menjadi pengetahuan yang dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....