Karhutla Way Kambas Mencapai Ratusan Hektare, Wagub Soroti Kesiapan Sumber Daya

  • 26 Agt 2026 19:01 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung: Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Lampung. Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran terjadi di sejumlah titik dengan luasan mencapai ratusan hektare.

Kondisi tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Lampung yang dipimpin Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela di Kantor BPBD Lampung, Rabu 26 Agustus 2026.

Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi mengatakan kebakaran pada 21-22 Agustus terjadi di wilayah Desa Braja Harjosari dengan luas area terbakar mencapai 673,4 hektare. Api berhasil dipadamkan pada 22 Agustus melalui operasi gabungan sekitar 250 personel.

Personel yang terlibat berasal dari TNWK, TNI, Polri, pemerintah daerah, masyarakat peduli api, masyarakat mitra polhut, kelompok tani hutan, dan masyarakat sekitar kawasan.

Kebakaran kembali terjadi pada 23 Agustus di Desa Braja Luhur dengan luas sekitar 123 hektare. Menurut Zaidi, vegetasi yang terbakar umumnya berupa alang-alang.

"Vegetasi kawasan terbakar pada umumnya adalah alang-alang. Jadi alhamdulillah sampai saat ini hutan primer maupun hutan sekunder kita belum ada yang terbakar," kata Zaidi.

Kebakaran berikutnya terjadi pada 24 Agustus di kawasan Resort Rantau Jaya, Lampung Tengah, dengan luas sekitar 6,2 hektare. Api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar tiga hingga empat jam.

Namun, penanganan kebakaran di kawasan TNWK menghadapi kendala akses dan ketersediaan air. Sejumlah sungai dan rawa di dalam kawasan mulai mengering sehingga petugas kesulitan memperoleh sumber air untuk pemadaman.

Selain itu, beberapa titik kebakaran tidak dapat dijangkau kendaraan. Petugas harus menyeberangi sungai dan berjalan kaki menuju lokasi.

Kondisi cuaca yang kering dan angin kencang juga membuat api pada vegetasi alang-alang bergerak cepat.

Keterbatasan peralatan turut menjadi persoalan. Dari tujuh mesin pompa yang dimiliki TNWK, hanya dua dalam kondisi baik dan pada penanganan kebakaran terbaru hanya satu yang dapat digunakan.

"Kita punya 44 personel polhut untuk luasan 125.000 hektar. Yang kita punya 17 personel Manggala Agni. Nah ini juga dengan peralatan seadanya, dan APD-nya juga kurang memadai," ujar Zaidi.

TNWK saat ini memiliki lima kendaraan roda empat, tujuh sepeda motor, dan tujuh mesin pompa. Namun, hanya tiga kendaraan roda empat yang dapat digunakan untuk penanggulangan kebakaran.

Kondisi tersebut membuat dukungan lintas instansi menjadi penting. Zaidi mengapresiasi pembentukan posko bersama serta dukungan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Lampung, termasuk bantuan water bombing untuk pembasahan dan pendinginan kawasan.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela sebelumnya meminta seluruh sumber daya penanganan karhutla dipetakan secara rinci. Menurutnya, pemetaan personel, kendaraan, peralatan, dan sumber air harus dilakukan sebelum kebakaran terjadi.

Jihan juga meminta setiap wilayah rawan memiliki informasi mengenai jalur masuk, jalur alternatif, titik kumpul, sumber air terdekat, hingga kendaraan yang dapat digunakan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat respons di wilayah yang memiliki medan sulit seperti kawasan TNWK.

Selain faktor cuaca, TNWK menemukan sejumlah aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu kebakaran, antara lain pengambilan rumput, perburuan ilegal dengan menggunakan api, serta pembukaan jalur dengan cara membakar vegetasi.

Karena itu, patroli pencegahan dan deteksi dini bersama TNI dan Polri terus dilakukan, disertai penguatan edukasi masyarakat dan penegakan hukum.

Pemerintah Provinsi Lampung juga mendorong penguatan dukungan udara untuk mengantisipasi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....