Wagub Lampung Minta Pencegahan Karhutla Diperkuat, Jangan Tunggu Api Muncul
- 26 Agt 2026 18:58 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung: Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela meminta upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkuat menyusul meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau.
Jihan mengatakan, pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan di Lampung selama ini relatif mampu merespons kebakaran setelah titik api muncul. Namun, langkah mitigasi sebelum kebakaran terjadi masih perlu ditingkatkan.
"Sebetulnya kita mempunyai respons fire suppression. Fire suppression-nya itu masih lebih baik daripada fire prevention. Artinya bagaimana kita menangani kebakaran pada saat titik api sudah muncul itu sebetulnya kita sudah bisa menangani dengan respons yang cukup cepat, tetapi bagaimana penanggulangan atau mitigasi sebelum titik api itu muncul, ini yang perlu kita kuatkan sama-sama," ujar Jihan dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Lampung di Kantor BPBD Lampung, Rabu26 Agustus 2026.
Menurut Jihan, penguatan pencegahan penting dilakukan karena Lampung memasuki periode kemarau. Berdasarkan paparan BMKG dalam rapat tersebut, Agustus hingga Oktober menjadi periode yang perlu diwaspadai karena kondisi kering dapat meningkatkan kemunculan titik panas.
Karena itu, Jihan meminta BPBD Lampung bersama instansi terkait membuat pemetaan wilayah rawan kebakaran yang terintegrasi dengan keberadaan personel dan peralatan.
Pemetaan tersebut, kata dia, tidak hanya mencakup sumber daya pemerintah, tetapi juga personel dari TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, perusahaan, serta unsur masyarakat yang dapat dikerahkan saat terjadi kebakaran.
Selain personel, seluruh peralatan penanggulangan karhutla juga harus didata berdasarkan jenis, jumlah, dan lokasi. Dengan begitu, peralatan terdekat dapat segera digerakkan ketika terjadi kebakaran.
Jihan juga menyoroti pentingnya ketersediaan sumber air. Ia meminta Dinas PSDA, Balai Besar Wilayah Sungai, dan BPBD memetakan embung, kanal, sungai, serta sumber air lainnya di wilayah rawan.
"Mulai dari hari ini untuk setiap zona merah, kita harus ketahui jalur masuk airnya, jalur alternatifnya, kemudian titik kumpulnya, sumber air terdekat, dan kendaraan yang bisa digunakan untuk lokus-lokus tersebut. Jangan ketika api muncul kita bingung cari air di mana," tegasnya.
Ia menilai kesiapan tersebut harus dibangun sebelum terjadi kebakaran, terutama di kawasan dengan karakteristik geografis yang menyulitkan penanganan seperti lahan gambut.
Data BPBD Lampung mencatat 194 titik panas hingga 25 Agustus 2026. Sebanyak 28 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 164 sedang, dan dua rendah. Sebaran titik panas terkonsentrasi di wilayah utara, timur, dan tengah yang mencakup 11 kabupaten.
Sementara pada 26 Agustus 2026 hingga pukul 08.20 WIB, terdeteksi 47 hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah dan tiga hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang.
Rapat koordinasi tersebut melibatkan BPBD, BMKG, TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, balai teknis, perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Jihan berharap seluruh unsur tidak hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi membangun sistem pencegahan yang terukur agar titik api dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....