Api di TN Way Kambas Dipadamkan, Hotspot Terus Diburu
- 25 Agt 2026 21:41 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, diperkuat setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dan dukungan penanganan. Pada Selasa 25 Agustus 2026, tim gabungan mengerahkan personel darat, Tim Alpha TNI, helikopter BNPB untuk water bombing, hingga drone semprot untuk memburu titik panas.
Sejumlah kobaran api di kawasan TNWK telah berhasil dipadamkan. Namun, tim masih menemukan sejumlah hotspot yang berpotensi menyimpan bara dan memicu kebakaran kembali.
Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudi Syawal mengatakan, helikopter BNPB telah tiba di Lampung dan digunakan untuk mendukung operasi pemadaman dari udara. Helikopter dengan misi Fire Fighting Mission mendarat di Bandara Radin Inten II pada Selasa pukul 13.49 WIB.
“Water bombing sudah dilakukan sore ini oleh tim BNPB di lokasi karhutla. Ini untuk membantu pendinginan dan menurunkan suhu di titik-titik yang masih panas. Helikopter akan terus standby sampai api benar-benar padam,” ujar Rudi.
Menurut Rudi, operasi udara difokuskan tidak hanya pada titik yang masih terlihat terbakar, tetapi juga lokasi yang memiliki suhu tinggi dan berpotensi menjadi bara.
“Jadi tidak hanya melihat api yang kelihatan, tetapi titik-titik panas yang masih ada juga kita antisipasi supaya tidak menjadi bara dan kemudian muncul api kembali,” katanya.
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, water bombing diperlukan untuk membantu menurunkan suhu di sejumlah titik yang sulit dijangkau personel darat.
“Water bombing ini kita laksanakan untuk membantu menyirami titik-titik hotspot tadi sehingga suhunya bisa turun, tidak memungkinkan untuk terjadinya kembali api,” ujar Kristomei.
Berdasarkan pengamatan tim, masih terdapat titik dengan suhu lebih tinggi dibandingkan kondisi normal tanah.
“Tadi dari pengamatan-pengamatan kita, masih ada titik-titik yang memungkinkan, karena suhunya berbeda dengan suhu tanah sebenarnya, masih kuning atau merah. Nah, itu yang harus kita waspadai,” jelasnya.
Selain helikopter BNPB, tim menyiapkan drone semprot untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi personel melalui jalur darat. Drone tersebut memiliki kapasitas semprot 16 liter, 30 liter, dan 1 liter.
“Sore ini juga kita melakukan drone semprot dengan kapasitas 16 liter, 30 liter, dan 1 liter, sehingga bisa bolak-balik isi, diterbangkan ke tempat-tempat yang susah dijangkau dengan jalan kaki,” kata Kristomei.
Pengerahan Tim Alpha TNI juga dilakukan sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI. Personel diarahkan ke lokasi yang sulit dijangkau dan masih memiliki titik panas.
Sebelum personel bergerak, tim melakukan surveillance menggunakan perangkat thermal untuk mengidentifikasi titik panas yang berpotensi menjadi bara.
“Tadi sudah kita adakan surveillance dulu, pengamatan menggunakan thermal, di mana kira-kira titik api yang masih mungkin menjadi bara dan menyebabkan kebakaran,” ujarnya.
Pangdam XXI/Radin Inten menyebut rangkaian kebakaran sejak 21 Agustus 2026 telah berdampak pada sekitar 802,4 hektare lahan.
Pada kejadian 21-22 Agustus, sekitar 673 hektare terdampak di Desa Braja Harjosari. Kemudian pada 23-24 Agustus, sekitar 123 hektare terdampak di wilayah Braja Kencana dan Braja Luhur.
Sementara kebakaran di Rantau Jaya pada 24 Agustus berdampak sekitar 6,4 hektare.
Sebagian besar wilayah terdampak merupakan vegetasi alang-alang dan savana yang berada dalam kondisi kering sehingga mudah terbakar.
Terkait penyebab kebakaran, Kristomei mengatakan kondisi kering ekstrem menjadi salah satu dugaan sementara.
“Dugaan sementara kan memang karena keringnya ekstrem, terjadi gesekan antar ranting, antar semak-semak itu,” ujarnya.
Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih didalami. Kapolda Lampung Irjen Pol. Helfi Assegaf mengatakan kemungkinan adanya unsur kesengajaan juga menjadi bagian dari proses penyelidikan.
Pihak kepolisian, kata dia, juga melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Sementara Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela mengatakan, seluruh unsur dikerahkan untuk memitigasi potensi munculnya titik api baru.
“Utamanya kita membentuk, mengomandoi tim gabungan, mulai dari TNI, Polda, dan juga seluruh dari tim TN, Balai, membentuk suatu tim gabungan untuk bisa memitigasi hal-hal yang berpotensi menjadikan titik api, hotspot baru,” ujar Jihan.
Pemerintah juga melibatkan masyarakat dan komunitas lingkungan dalam upaya pencegahan.
“Kita juga mengajak seluruh komunitas, seperti dari Pramuka atau dari aktivis-aktivis lingkungan lainnya untuk bisa sama-sama menjaga atau aware, lebih aware bagaimana potensi terjadinya api dan lain sebagainya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....