Lebih dari Seabad di Bagelen Pesawaran, Kesenian Jawa Kuda Kepang hingga Angguk

  • 24 Agt 2026 07:22 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pesawaran - Lebih dari satu abad setelah pendatang dari Pulau Jawa tiba di Bagelen, Pesawaran, jejak budaya mereka masih terdengar melalui berbagai kesenian tradisional yang bertahan hingga kini. Warisan budaya tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan.

Sekretaris Desa Bagelen, Lasmono, menyebut sejumlah kesenian yang masih dikenal masyarakat antara lain Kuda Kepang, Mangsang Bodoh, Kicang Kecangan, Angguk dan Marhaban.

“Kesenian itu ada Kuda Kepang, Mangsang Bodoh, Kicang Kecangan. Kita juga punya Angguk dan Marhaban,” kata Lasmono, Minggu, 23 Agustus 2026.

Kesenian tersebut diyakini berkembang bersama masyarakat keturunan pendatang dari Jawa yang mulai menetap di Bagelen sejak 1905. Salah satunya kesenian Angguk yang memiliki nuansa Islam.

Lasmono mengatakan kesenian tersebut diyakini berkaitan dengan perkembangan Islam yang dibawa masyarakat dari Pulau Jawa ke Lampung. Kesenian tradisional itu hingga kini masih ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Selain kesenian, sejumlah benda tradisional juga masih disimpan warga. Salah satunya lesung yang digunakan dalam kegiatan tertentu di desa. Lesung tersebut antara lain digunakan dalam pertunjukan, penyambutan kegiatan hingga peringatan malam 1 Muharram.

Namun, Lasmono mengingatkan belum semua benda tradisional yang masih digunakan masyarakat dapat dipastikan berasal langsung dari masa kedatangan pertama pada 1905.

“Yang betul-betul asli dari 1905 belum terinventarisasi,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, masih diperlukan pendataan untuk memastikan usia, asal-usul dan sejarah benda-benda tradisional yang ada di masyarakat. Upaya menjaga kesenian dan tradisi tersebut menjadi penting karena budaya merupakan salah satu jejak yang masih dapat dilihat dari perjalanan panjang masyarakat Bagelen.

Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, mengatakan keberadaan kesenian dan tradisi tersebut merupakan bagian dari warisan yang perlu diteruskan kepada generasi muda.

Menurutnya, sejarah Bagelen tidak hanya tersimpan dalam dokumen, tetapi juga hidup melalui tradisi masyarakat.

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikan sejarah tersebut. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengetahui Bagelen sebagai sebuah desa, tetapi tidak mengetahui bagaimana awal mula desa ini terbentuk,” kata Merdi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....