Kisah Para Pendatang Bagelen Pesawaran, Tiga Hari Berjalan Kaki Menembus Hutan

  • 24 Agt 2026 07:22 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pesawaran - Tiga hari berjalan kaki menjadi bagian dari perjalanan para pendatang asal Jawa menuju wilayah yang kini menjadi Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, lebih dari satu abad lalu. Saat itu, kawasan yang mereka tuju masih berupa hutan. Tidak ada permukiman seperti yang terlihat sekarang.

Sekretaris Desa Bagelen, Lasmono, mengatakan para pendatang terlebih dahulu tiba di kawasan Teluk Betung sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bagelen.

“Dari Teluk Betung itu berjalan kaki sampai ke Bagelen. Kalau dulu belum Bagelen, masih wilayah Kedung Tataan. Itu sekitar tiga hari perjalanan,” kata Lasmono, Minggu, 23 Agustus 2026.

Perjalanan tersebut menjadi awal perjuangan para pendatang membangun kehidupan baru di Lampung. Setibanya di lokasi, mereka harus membuka hutan untuk mendirikan permukiman sekaligus mencetak lahan pertanian.

“Memang benar-benar babat alas,” ujarnya.

Pembukaan hutan dilakukan karena wilayah tersebut telah ditentukan sebagai lokasi permukiman dalam program kolonisasi pemerintah Hindia Belanda. Para pendatang kemudian mulai mengubah kawasan hutan menjadi lahan pertanian, terutama persawahan.

Salah satu jejak proses pembukaan hutan itu dikaitkan dengan keberadaan bola besi berukuran besar. Lasmono mengatakan terdapat dua bola besi yang digunakan untuk merobohkan pohon-pohon besar. Benda tersebut ditarik menggunakan bulldozer dan rantai besar.

“Bola besi itu digunakan untuk merobohkan pohon-pohon besar. Ditarik menggunakan bulldozer dengan rantai besar,” jelasnya.

Menurutnya, satu bola besi berada di Museum Transmigrasi Lampung, sedangkan satu lainnya berada di Taman Mini Indonesia Indah. Setelah lahan berhasil dibuka, masyarakat mulai mengembangkan pertanian sebagai sumber kehidupan.

Areal persawahan yang disebut berkaitan dengan masa awal pembukaan lahan masih berada di wilayah Dusun II Desa Bagelen. Namun, hasil pertanian pada masa awal masih rendah karena lahan baru beralih dari kawasan hutan menjadi persawahan.

“Pertama kali yang dibuka itu persawahan. Hasilnya sekitar 90 sampai 100 kilogram per hektare,” ujar Lasmono.

Seiring waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman dan pusat kehidupan masyarakat. Pada 1910, pemerintah kolonial menyerahkan tanah Desa Bagelen kepada masyarakat dengan luas 537 bau atau sekitar 424,6 hektare.

Lebih dari satu abad kemudian, kondisi Bagelen telah berubah jauh. Namun, cerita tentang perjalanan para pendatang, pembukaan hutan dan perjuangan membangun permukiman masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat.

Bagi warga Bagelen, sejarah tersebut bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bagian dari perjalanan terbentuknya desa yang mereka tempati hingga sekarang.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....