Antisipasi Musim Kering, Akademisi ITERA Minta Pemda Perkuat Cadangan Air

  • 21 Agt 2026 08:06 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Akademisi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menilai ancaman krisis air akibat berkurangnya curah hujan di Provinsi Lampung perlu diantisipasi secara serius. Peningkatan suhu udara dan perubahan pola hujan tidak hanya berdampak pada kenyamanan harian, tetapi juga mengancam ketersediaan air bagi sektor pertanian, industri, dan rumah tangga.

Dosen Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu ITERA Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T. memaparkan bahwa ketahanan air tidak bisa hanya diukur dari banyaknya jumlah sungai atau waduk yang dimiliki suatu daerah. Menurutnya ketersediaan infrastruktur penampungan, kualitas air, serta kemudahan akses distribusi menjadi faktor penentu utama di lapangan.

Sektor pertanian dan perkebunan di Lampung dinilai paling rentan terdampak saat pasokan air hujan mulai berkurang. Petani sangat membutuhkan integrasi data dan informasi iklim ke dalam perencanaan masa tanam guna menekan risiko kegagalan produksi akibat kekeringan.

Selain faktor alam, maraknya alih fungsi lahan terbuka menjadi kawasan pemukiman dan infrastruktur kedap air turut memperparah risiko bencana hidrometeorologi. Kurangnya daerah resapan membuat air hujan cepat terbuang menjadi banjir saat musim hujan, namun menyebabkan cadangan air tanah minim saat musim kemarau.

Hakiem meminta pemerintah daerah untuk segera mengubah pola pikir tata air dengan menampung air hujan melalui sumur resapan, embung, dan kolam retensi. Pihaknya menekankan agar langkah pemetaan wilayah rawan serta penguatan infrastruktur penyimpanan dilakukan sebelum terjadi krisis air bersih.

"Jangan menunggu sumur masyarakat mengering baru bantuan air diberikan," ujar Hakiem, dikutip Kamis 20 Agustus 2026.

Hakiem juga menegaskan bahwa fenomena iklim global seperti El Niño maupun Indian Ocean Dipole (IOD) memang tidak dapat dihentikan oleh manusia. Kesiapan sistem pengelolaan serta komitmen menjaga daerah resapan menjadi satu-satunya cara untuk mengurangi kerentanan dampak kekeringan di Lampung.

"Persoalannya adalah apakah kita mampu menjaga air ketika tersedia dan menggunakannya ketika dibutuhkan," kata Hakiem.

Masyarakat juga diimbau untuk ikut aktif melakukan tindakan penghematan air serta menjaga saluran drainase di lingkungan pemukiman masing-masing. Sinergi antara pemerintah dan warga diharapkan dapat mewujudkan ketahanan air yang berkelanjutan sebelum musim kering benar-benar melanda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....