Berakar dari Budaya Jawa, Sanggar Merah Putih Tak Lupa Jati Diri Lampung

  • 10 Agt 2026 07:40 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pringsewu - Denting gamelan Jawa berpadu dengan bunyi gamolan Lampung. Dua alat musik yang lahir dari tradisi berbeda itu bertemu dalam satu panggung, dimainkan oleh para seniman di Sanggar Seni Merah Putih, Pekon Tulung Agung, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Bagi sanggar tersebut, pertemuan dua budaya itu bukan sekadar eksperimen bermusik.

Ada pesan yang ingin disampaikan: tumbuh di tengah masyarakat yang mayoritas Jawa tidak berarti harus meninggalkan budaya Lampung sebagai tanah tempat mereka berpijak.

Ketua Sanggar Seni Merah Putih, Eka Bima Prasetya, mengatakan akar kesenian sanggar memang berangkat dari budaya Jawa.

Karawitan menjadi salah satu kesenian yang sejak awal mereka kembangkan, sejalan dengan latar masyarakat Pekon Tulung Agung yang mayoritas merupakan keturunan Jawa.

Namun seiring perjalanan sanggar, mereka mulai memperluas ruang berkesenian dengan mengenalkan berbagai kesenian lain, termasuk gamolan Lampung.

“Awalnya kami memang dari karawitan, karena di sini mayoritas Jawa. Tapi semakin ke sini kami mengembangkan, salah satunya gamolan Lampung,” kata Eka.

Upaya mempertemukan budaya Jawa dan Lampung kemudian dituangkan dalam karya kolaborasi.

Bukan pekerjaan mudah. Eka bersama para seniman membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan untuk menyusun satu karya, mulai dari menentukan konsep, komposisi hingga latihan.

Mereka juga harus berhati-hati agar kolaborasi tersebut tidak menghilangkan karakter asli dari masing-masing kesenian.

“Kalau untuk kolaborasi musik Jawa dan Lampung itu sekitar satu sampai dua bulan prosesnya,” ujarnya.

Menurut Eka, salah satu tantangan terbesar justru muncul ketika mereka harus mempertemukan dua musik yang memiliki karakter dan pakem berbeda.

Namun tantangan itu tidak membuat mereka mundur.

Justru dari situlah mereka mencoba menemukan bentuk baru yang tetap menghormati akar budaya masing-masing.

Semangat serupa juga terlihat dari kostum pertunjukan.

Merita Suci Triasi, yang menangani bidang kostum dan tata rias Sanggar Seni Merah Putih, mengatakan unsur sejumlah daerah pernah dipadukan dalam satu penampilan.

Ada Jawa, Lampung, Bali, Batak hingga Sunda.

Untuk unsur Lampung, misalnya, mereka menggunakan tapis sebagai bagian dari kostum penari.

“Yang kita tonjolkan dari Lampung itu tapis. Yang laki-laki pakai selempang dari potongan tapis Lampung,” ujar Merita.

Sementara kuda kepang tetap menjadi salah satu kesenian Jawa yang menjadi identitas kuat sanggar.

Bagi Sanggar Merah Putih, perpaduan tersebut bukan upaya menghapus batas budaya.

Sebaliknya, masing-masing budaya tetap memiliki ruang untuk menunjukkan identitasnya.

Sanggar yang berdiri sejak 2018 itu kini memiliki hampir 150 anggota. Mereka tidak hanya berasal dari Pekon Tulung Agung, tetapi juga dari luar daerah, termasuk Tanggamus dan Pesawaran.

Dari perjalanan itu, Sanggar Seni Merah Putih menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan memilih satu budaya dan meninggalkan budaya lainnya.

Budaya Jawa yang menjadi akar tetap dirawat. Budaya Lampung yang menjadi identitas daerah juga dikenalkan dan dikembangkan.

Keduanya dipertemukan melalui seni. Sebab bagi mereka, budaya tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Ia bisa saling mengenal, berdampingan dan tumbuh bersama tanpa kehilangan jati dirinya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....