Bukan Sekadar Belajar Seni, Sanggar Merah Putih Bentuk Karakter Anak sejak Dini

  • 10 Agt 2026 07:39 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pringsewu - Bagi sebagian anak, malam hari mungkin menjadi waktu untuk bermain gawai atau bersantai di rumah. Namun bagi anak-anak di Sanggar Seni Merah Putih, malam justru menjadi waktu untuk menari, menabuh alat musik dan belajar mengenal budaya, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Sanggar Seni Merah Putih di Pekon Tulung Agung, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, tidak hanya menjadikan seni sebagai materi latihan.

Di tempat itu, anak-anak juga belajar disiplin, bekerja sama, percaya diri hingga mengenal tata krama.

Wakil Ketua Sanggar Seni Merah Putih, Dwi Prasetyo, mengatakan mayoritas peserta tari masih duduk di bangku SD dan SMP. Peserta paling dewasa berada di tingkat SMA.

Mengajarkan seni kepada anak-anak, kata dia, tentu memiliki tantangan tersendiri.

Salah satunya membangun kebiasaan dan kedisiplinan agar mereka mau mengikuti latihan secara konsisten.

“Anak-anak kan masih anak-anak. Kita pelan-pelan membentuk kebiasaan, disiplinnya itu yang perlu,” ujar Dwi.

Namun proses tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan sanggar.

Anak-anak tidak hanya datang untuk menghafalkan gerakan. Mereka perlahan belajar memahami bahwa sebuah pertunjukan membutuhkan latihan, kesabaran dan kerja sama.

Proses regenerasi juga mulai berjalan.

Sejumlah anak yang dahulu menjadi peserta latihan kini tumbuh menjadi pelatih. Dari awalnya hanya belajar, mereka kemudian dipercaya untuk meneruskan pengetahuan kepada generasi setelahnya.

Ketua Sanggar Seni Merah Putih, Eka Bima Prasetya, mengatakan awalnya ia bersama sang istri menjadi pelatih tari.

Ketika jumlah peserta semakin banyak, mereka mulai melibatkan anak-anak didik yang lebih dulu belajar untuk ikut melatih.

Kini terdapat sekitar enam hingga tujuh orang yang membantu melatih tari.

Regenerasi tidak berhenti pada kemampuan menari tapi juga membekali anak-anak dengan kemampuan tata rias agar mereka mampu mempersiapkan diri sebelum tampil.

Merita Suci Triasi, yang menangani kostum dan tata rias, mengatakan para penari mulai diajarkan melakukan rias dasar secara mandiri.

“Paling tidak mereka bisa makeup sendiri. Jadi tidak cuma bergantung pada satu atau dua orang yang makeup-in mereka,” kata Merita.

Menurut dia, kemampuan tersebut juga membuat anak-anak lebih mandiri sekaligus menghemat biaya ketika hendak tampil.

Namun yang paling penting, ada nilai yang ingin ditanamkan melalui aktivitas sanggar.

Anak-anak diajarkan unggah-ungguh, sopan santun dan bagaimana menghargai orang lain.

“Di Sanggar Seni Merah Putih tidak cuma belajar seni dan budaya, tapi juga belajar unggah-ungguh, sopan santun, bagaimana anak-anak bisa jadi anak yang baik,” ujarnya.

Bagi Merita, hal tersebut menjadi semakin penting di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin dekat dengan gadget.

Sanggar diharapkan menjadi salah satu ruang bagi mereka untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan yang produktif sekaligus mengenal budaya sendiri.

Karena itu, menjaga kesenian tradisional bagi Sanggar Merah Putih bukan semata-mata memastikan tari dan musik tetap dipentaskan.

Yang tidak kalah penting adalah memastikan ada generasi yang mau mempelajarinya.

Dari anak-anak yang datang untuk belajar, kemudian tumbuh menjadi pelatih, rantai regenerasi itu perlahan terbentuk.

Seni akhirnya bukan hanya diwariskan melalui gerakan dan bunyi musik, tetapi juga melalui nilai-nilai yang menyertainya.

Di Sanggar Merah Putih, pelestarian budaya berjalan bersamaan dengan proses membentuk generasi yang mengenal akar budayanya sekaligus belajar menjadi bagian dari masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....