Lampung Bangun National Cassava Center Perkuat Industri Singkong

  • 24 Jul 2026 21:29 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung: Pemerintah Provinsi Lampung resmi meluncurkan National Cassava Center (NCC) di Universitas Lampung, Jumat 24 Juli 2026, sebagai langkah strategis menjadikan Lampung episentrum pengembangan singkong Indonesia melalui penguatan riset, teknologi, investasi, hilirisasi, dan kesejahteraan petani.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan peluncuran National Cassava Center bukan sekadar menghadirkan lembaga riset baru, tetapi menjadi awal terbentuknya ekosistem singkong yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan.

"Ini bukan sekadar peresmian sebuah lokasi atau lembaga riset. Ini adalah titik awal pembangunan sebuah ekosistem di mana ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan petani dipertemukan dalam satu tempat," kata Mirza.

Menurutnya, Lampung memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan singkong nasional karena menyumbang sekitar 70 persen produksi singkong Indonesia. Komoditas tersebut juga menjadi sumber mata pencaharian ratusan ribu keluarga petani.

Namun, selama bertahun-tahun pengembangan singkong belum didukung ekosistem yang kuat. Industri dan petani berjalan sendiri-sendiri, sementara produktivitas masih tertinggal dibandingkan Thailand dan Vietnam.

Mirza juga mengingatkan bahwa sekitar 500 ribu petani singkong di Lampung pernah menghadapi tekanan akibat anjloknya harga hingga Rp600–Rp700 per kilogram.

Pemerintah Provinsi Lampung kemudian memfasilitasi dialog antara petani, industri, dan pemerintah pusat sehingga lahir kebijakan pengendalian impor yang berdampak pada kenaikan harga singkong.

"Hari ini harga singkong sudah mencapai sekitar Rp2.200 per kilogram. Ini menunjukkan bahwa ketika petani, industri, dan pemerintah bersatu, manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan peningkatan harga hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan produktivitas melalui riset varietas unggul, mekanisasi, penerapan teknologi budidaya, hingga hilirisasi produk.

"Kita harus menjadi nomor satu di dunia. Kita punya petani, lahan, industri, dan sekarang kita bangun risetnya. Saatnya meningkatkan produktivitas," tegasnya.

Menurut Mirza, transformasi sektor singkong diharapkan menjadi fondasi pengembangan bioekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....