Prof Sarono Resmi Dilantik Jadi Rektor UTB Lampung

  • 11 Jul 2026 14:58 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung – Teka-teki Rektor Universitas Tulang Bawang (UTB) Lampung akhirnya terjawab. Ketua Yayasan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Indonesia Lampung (YAPIPILA), Achmad Hidayat, SE, resmi melantik Prof. Dr. Ir. Sarono, M.Si, sebagai rektor masa bakti 2026-2030, Sabtu 11 Juli 2026. Sarono, merupakan profesor pertama di Polinela yang dikukuhkan sebagai guru besar di bidang Ilmu Teknologi Pangan dan Gizi pada Jurusan Teknologi Pertanian pada 2023 lalu. Sementara Hasan Basri, baru dikukuhkan sebagai guru besar pada Kamis 24 April 2026 lewat orasi ilmiah berjudul "Meneguhkan Komunikasi di Era Digital".

Sebelum bertugas ke Polinela, Sarono merupakan dosen di Fakultas Teknik, pernah menjadi Ketua Program Studi, Dekan, dan Wakil Rektor 1 UTB Lampung. Prof. Dr. Ir. Sarono, M.Si menggantikan Dr. Drs. Achmad Moelyono, MH yang terpilih menjadi rektor UTB Masa Bakti 2022-2026.

“Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan rasa syukur yang mendalam sekaligus penghormatan kepada Yayasan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Indonesia (YAPIPILA) Lampung atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengemban amanah ini. Kepercayaan tersebut saya terima bukan sebagai sebuah kehormatan pribadi, melainkan sebagai tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh integritas, kerja keras, dan pengabdian,” kata Prof. Sarono mengawali sambutannya.

Dia juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para rektor terdahulu, para pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh pihak yang telah meletakkan fondasi kemajuan Universitas Tulang Bawang Lampung hingga hari ini.

“Apa yang akan kita bangun ke depan tidak dimulai dari titik nol. Kita melanjutkan perjalanan panjang yang telah dirintis dengan penuh dedikasi oleh para pendahulu,” ujarnya.

Menurut Sarono, dunia pendidikan tinggi sedang memasuki era yang berbeda. Perubahan tidak lagi berlangsung secara bertahap, tetapi berlangsung secara eksponensial. Artificial Intelligence, transformasi digital, ekonomi hijau, bioteknologi, big data, otomasi, hingga perubahan iklim telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berinovasi, bahkan mengambil keputusan.

Dia menilai, universitas tidak cukup hanya menjadi tempat mentransfer ilmu pengetahuan. Universitas harus menjadi pusat lahirnya solusi. Kampus masa depan bukan sekadar menghasilkan lulusan yang siap mencari pekerjaan, tetapi menghasilkan insan yang mampu menciptakan pekerjaan, menghasilkan inovasi, membangun masyarakat, dan memberi jawaban atas persoalan bangsa.

“Saya membayangkan Universitas Tulang Bawang Lampung beberapa tahun ke depan menjadi sebuah Future Smart University kampus yang unggul, adaptif, dan berdaya saing nasional berbasis inovasi dan kolaborasi hadir sebagai penggerak pembangunan masyarakat. Namun saya percaya bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Artificial Intelligence boleh semakin pintar, tetapi manusia harus tetap lebih bijaksana. Oleh karena itu, karakter, integritas, etika, dan kepedulian sosial akan tetap menjadi jantung pendidikan di universitas ini,” kata Prof. Sarono.

Selama empat tahun ke depan, lanjut Sarono, arah pembangunan UTB Lampung akan berlandaskan pada lima komitmen utama. Pertama, membangun budaya akademik yang unggul. Universitas harus menjadi rumah bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan, kreativitas, kebebasan berpikir, dan inovasi. Dosen akan terus didorong meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa harus memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Kedua, mempercepat transformasi digital. Digitalisasi bukan sekadar mengganti kertas dengan komputer. Digitalisasi adalah mengubah cara kita bekerja agar lebih cepat, transparan, efisien, dan berbasis data. Kita ingin setiap keputusan institusi lahir dari data yang akurat dan tata kelola yang baik.

Ketiga, memperkuat kolaborasi. Tidak ada universitas yang mampu berkembang sendirian. Kita akan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan pemerintah, dunia usaha, dunia industri, lembaga internasional, perguruan tinggi dalam dan luar negeri, serta masyarakat. Kampus harus menjadi simpul kolaborasi, bukan menara gading yang terpisah dari realitas.

“Keempat, mendorong riset yang berdampak. Keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari jumlah publikasi, tetapi juga dari manfaatnya bagi masyarakat. Kita ingin hasil riset mampu melahirkan inovasi, teknologi tepat guna, kebijakan publik, serta produk-produk yang memberikan nilai tambah bagi pembangunan daerah maupun nasional. Kelima, membangun budaya pelayanan. Saya meyakini bahwa universitas yang hebat adalah universitas yang melayani. Mahasiswa harus merasakan pelayanan yang baik. Dosen memperoleh dukungan yang memadai untuk berkarya. Tenaga kependidikan bekerja dalam sistem yang sehat dan professional, mitra merasa dihargai, dan masyarakat merasakan manfaat kehadiran kampus,’ ucapnya.

Dia juga mengajak seluruh civitas akademika menjadikan empat tahun ke depan sebagai masa untuk memperkuat fondasi menuju Transformasi UTB Lampung, yang membutuhkan kepemimpinan yang visioner, adaptif, kolaboratif, dan berorientasi hasil yang didukung oleh Yayasan YAPIPILA secara cerdas.

“Dengan komitmen bersama seluruh sivitas akademika daan yayasan, UTB Lampung dapat berkembang menjadi perguruan tinggi unggul yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Saya memohon doa, dukungan, masukan, dan kerja sama dari seluruh sivitas akademika. Saya datang bukan membawa semua jawaban, tetapi membawa komitmen untuk bekerja bersama mencari jawaban terbaik. Semoga setiap langkah yang kita lakukan menjadi ikhtiar yang bernilai ibadah, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan menjadi warisan yang membanggakan bagi generasi yang akan datang,” kata Prof. Sarono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....